19 Tanda Gagal Ramadhan

28 Agu 2008
Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Di bawah ini kiat-Kiat menghindarinya gagalnya Ramadhan

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban.

Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya’ban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha berkata,

”Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.”

2. Gampang mengulur shalat fardhu.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih.” (Maryam: 59)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=19&No=59#59

“Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)
http://ccc.1asphost.com/assalamquran/Alquran_Surah.asp?SuratKe=107&No=4#4

Menurut Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

Artikel:
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Wajib%20Sholat%20Berjamaah.asp
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Peringatan%20Meninggalkan%20Shalat.asp
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Keutamaan%20Shalat.asp

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya:90)

“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya.” (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.

Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Qur’an.

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur’an.

“Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an.” (HR Baihaqi)
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya“.(HR Bukhari)

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.

Al-Qur’an Online + (Murottal-Tafsir-Asbabun Nuzul)
http://ccc.1asphost.com/assalamquran/

6. Mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: “Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”

Dalam hadits lain beliau bersabda: “Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.” (Al Muhalla VI: 178) Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: “Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.”

8. Memutuskan tali silaturrahim.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: “…Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya…” Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.

Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.

Al-Qur’an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

“Allah bertanya: ‘ Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?’

Mereka menjawab: ‘Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’

Allah berfirman: ‘Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. “Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 112-116)

Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

10. Labil dalam menjalani hidup.

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw:

“Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya.” (HR Ahmad, Nasa’i, Baihaqi dari Abu Hurairah)

Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan ‘amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

12. Khianat terhadap amanah.

Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjama’ah.

Frekuensi shalat berjama’ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah, yang saling menguatkan.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf: 4)
Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.

Artikel tambahan:
http://ccc.1asphost.com/assalam/Gerakan%20Islam%20Wajib%20Bersatu.asp

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.

Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.

Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.

Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Surah.asp?SuratKe=107&No=1#1

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18 )

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.

Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelah Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.

Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Secara harfiah makna Idul Fitri berarti “hari kembali ke fitrah”. Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari “penjara” Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.

Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.

(dikutip dari Hidayatullah.com,
blog.jashtis.org/tarbiyah/ )


Selanjutnya....

Dimanakah Cahaya-Mu

21 Agu 2008
Di balik kain putih yang jadi simbol kesucian
terselip coretan tinta hitam yang menjadi ciri insani
pancaran cahaya permata menuju arah lembah kegelapan
membuka rahasia dinding-dinding kepalsuan diri.

Ya Allah...
dimanakah cahaya-Mu
dari sini kuletakkan dua kakiku di rumah-Mu
ku tundukkan kepalaku di hadapan-Mu
ku berkiblat dimana Engkau memanggilku
ku merasa rindu ingin bertemu dengan –Mu

Ya Allah...
dimanakah cahaya Mu
Ku berlutut di hadapan-Mu dengan pakain ini
ku bersimpuh tuk mengharap ridhoMu
ku teteskan air mata di rumah yang suci
tuk menjadi saksi taubatku padaMu

Ya Allah...
Dimanakah cahaya-Mu
Engkau memanggilku dengan ayat-ayat-Mu
Tuk hadir di rumah-Mu yang suci ini
Engkau mengutus para utusan-Mu
Tuk menaburkan cahaya ilahi
yang dapat membawa pada jalan yang diridhoi

ya Allah...
dimanakah cahaya-Mu
ku ingin merasa takut dengan azabMu
ku ingin jadi hamba yang selalu di sampingMu
karena aku tak sanggup menahan api nerakaMu
ya Allah...
uluran tangan-Mu selalu di hatiku.

Oleh :l4_tansa_nie@yahoo.com

Selanjutnya....

Andai dia tahu …

:) Andai dia tahu :) …
Kurangkai kata tak bermakna
Hidupkan batu penuh bisu
Ku malu dan tersipu. Walau
Hadirnya hanya dalam
Hayalku
Andai dia tahu …
Hadirnya benamkan mega Cleopatra
Pecahkan dahaga safir sahara
Beritahu dia … bisikkan padanya
Ku rindu akan hadirnya …

Sejak mengenal Hani, aku semakin pintar menulis puisi. :L Sepertinya aku tak pernah kehabisan kata-kata. Sudah kedelapan kalinya aku mengirimkan bait-bait puisi. Aku tak pernah berputus asa. Walaupun Hani tak pernah membalasnya." Ahh… akhirnya selesai", gumamku sambil kututup diary kecil berwarna silver itu. Lalu ku berdiri membuka jendela kamar yang basah dengan butiran-butiran embun.
"Hmm… segar… kembali kuhirup udara pagi yang masih segar. Kulihat sepasang merpati putih terbang rendah saling menyatukan paruhnya. Kemudian kembali menghilang. "ooh… andai gadis itu bersamaku disini … " aku mulai berandai-andai.

Bila kita mencintai yang lain
Mungkinkah hati ini akan tegar
Sebisa mungkin tak akan pernah
Sayangku akan hilang …

Sambil menikmati lagu duet Acha dan Irwansyah, aku mencoba mendeskripsikan wajah gadis itu. Cantik… manis… anggun… ramah. Sejuta katapun tak akan bisa kuungkapan akan kelebihan yang ada dalam dirinya. Lagu itu benar, semua serba indah, tampak baik, dan menyenangkan hanya dengan empat huruf : L O V E. :L

* * *

"Rif, minggu depan ada kajian keislaman, ikutan yuk!!!" ujar Rizal sahabat karibku sejak kecil. "Ah… gue males ikut yang kaya' gituan, tugas gue numpuk. Gue harus nyari referensi untuk mata kuliah manajemen bisnis, en gue nggak mau IP jeblok gara-gara kegiatan itu" aku memandang sejenak ke arah Rizal dan terus melangkah menuju parkir mobil."Jangan nolak dulu donk, dijamin deh, loe nggak bakalan rugi." Tampak Rizal di samping mobilku. "Dah yuk masuk, gue laper nih" ajakku sambil membukakan pintu untuknya. " Zal, denger yah, sekarang tuh orang yang sering ikut kelompok pengajian disangka teroris, en gue nggak mau mendekam di penjara atau ditembak mati polisi kayak Amrozi Cs." Sahutku sambil menghidupkan mesin mobil."Rif, loe nggak boleh memandang satu kelompok dari sisi negatifnya saja donk, coba loe liat gue sejak ikut pengajian itu, gue tambah alim kan?!" tukasnya seraya merapikan rambut dengan jarinya. Aku menatapnya sekilas. "ha…ha… zal, loe alim tapi masih pacaran!" Bantahku. "ya... gue kan baru ikut satu kali, nanti kalo udah tiga atau empat kali, gue baru mau jadi ikhwan yang sesungguhnya."
"Beener nih??? Kalo gitu Novinya buat gue yahhh?? Ujarku menggodanya:D. Matanya melotot sambil menggeser tempat duduk:@. "wah… jangan main serobot gitu donk, enam bulan tuh gue bergerilya buat naklukin tu cewek".
" ha… ha… gak janji deh!!! Bisikku pada Rizal..

***
< Rif, mo ga' k pengajian? Aq tggu d kosan>
Kubaca SMS dari Rizal. Tuh anak nggak bosen-bosennya nyuruh aku ke pengajian. Sudah lima kali dia merayuku, tapi kalo' harus menolak untuk yang keenam kalinya kasihan juga sih…
akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
" Zal, loe tuh bener-bener gak bisa manfaatin waktu deh, minggu pagi kayak gini, enaknya nonton, jalan-jalan ke mall atau maen bola." Aku langsung nyerocos begitu masuk kamar Rizal.
Dia tersenyum simpul, sambil sibuk merapikan baju kokonya di depan cermin. Aku pun geram bukan main, tapi cuma bisa menahannya dalam hati. Ujung-ujungnya dongkol abis.
"udah deh loe jangan banyak komenter dulu, yuk!!!" Bujuknya kemudian.
Masjid Baiturrahman tampak dipenuhi jamaah. Tampak orang-orang berpakain rapih datang berduyun-duyun ke arah pintu masjid. Kami terus melangkah ke dalam. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru mesjid, tampak jamaah laki-laki dan perempuan dipisahkan dengan kain pembatas.
"Yah… nggak bisa cari gebeten donk" keluhku dalam hati.
" Maka bertakwalah kita semua kepada Allah, Tuhan semesta alam…" pesan ustadz Rahbini kepada jamaah. Kulihat Rizal begitu antusias mendengarnya sesekali kepalanya mengangguk kemudian mencatat ucapan ustadz tersebut dalam note book. Sejam berlalu tapi ustadz Rabbini belum mengakhiri ceramahnya. Tidak ada diskusi. " Ahh …membosankan" gerutuku dalam hati.
Loe tidur Rif…ampuun, gak mau dapat pahala loe..?? Rizal terkejut menyadari aku tengah tertidur. " Bangun dong, wah malaikat bisa bingung nyatet amal loe tuh, pergi ke masjid bukannya cari pahala, eh… malah sampai sini tidur." Bisik Rizal padaku, sambil mencolek lenganku. "Udah yuk pulang, gue laper" pintaku memelas."Sebentar lagi selesai, 15 menit lagi." " yah…."
Setelah pengajian selesai, aku dan Rizal bergegas menuju tempat parkir. Tiba-tiba langkahnya terhenti " Riz…tunggu ya… gue ada perlu sama Hani."
" Hani siapa?" Tanyaku heran."Loe mau kenalan?" Dia salah satu akhwat yang aktif mengikuti pengajian ini dan bendahara LSM tim SMART. Dialah yang menyarankan aku untuk ikut pengajian ini."
"Siapa takut." Ujarku enteng." Giliran melototin cewek, gak ngantuk loe, dasar buaya."
" Eh… Rif kenalkan, ukhti Hani, mahasiswi UNY Jurusan pendidikan bahasa Inggris semester 4." Rizal memperkenalkan gadis tersebut, sambil melirik padaku."Cantik bangett……gak rugi gue ke sini." Gumamku dalam hati." LSM kita akan mengadakan penyuluhan pada masyarakat, khususnya pelajar SMA mengenai kesehatan reproduksi" sambungnya lagi."Gimana ukhti, persiapannya? Kalau sudah beres, tolong hubungi saya. Hari ini saya akan meninjau lokasinya."Si jilbab biru hanya menganggukkan kepala. Tatapannya tetap menunduk.
" Zal, elo belom ngenalin nama gue." Bisikku pada Rizal " Oh... ya hampir lupa, ukhti ini Rifqi Riyadi, mahasiswa UGM jurusan ekonomi semester akhir." Aku pasang senyum semanis mungkin seraya mengulurkan tangan. Namun si gadis itu hanya tersenyum tanpa menerima uluran tanganku.
"Gak boleh pegangan tangan!" Seru Rizal di dekat telingaku."
"Oh… maaf." Tambahku kemudian."Enggak papa kok, ngomong-ngomong mas Rifqy baru kali ini ikut pengajian?"
" sebenarnya, ya… ehm… aku….aku banyak tugas, jadi… ya… ya….gak sempat."
"ya sudah, semoga kita bisa ketemu lagi, mari, assalamu'alaikum." Ujarnya, kemudian pergi.
Sejak kejadian itu, aku tidak bisa berkonsentrasi, bayangan wajah Hani selalu melintas di benakku. Aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Kini aku lebih sering ke pengajian. Bahkan kalau Rizal sibuk, aku berangkat sendirian. Sebenarnya sih aku cuman pengin ketemu Hani. Sejak saat itu pula, aku mencoba menulis puisi. "
Adindaku, engkaulah yang terindah, di dalam segala-galanya yang indah
tatkala terbitnya cahaya fajar kemerah-merahan
tatkala kuntum-kuntum kembang memekarkan kelopak
tatkala ombak menggulungi kebiruan samudera
tatkala rumput yang menghijau menari-nari dihembusi sang bayu"
kurangkai kata-kata di atas selembar kertas surat berwarna pink. Ah….bahasanya kurang konotatif" keluhku sambil membuang kertas tersebut. Aku mengambil kertas lain, memejamkan mata, dan mencoba merangkai kata-kata.
" cintaku padamu, ibarat garam melezatkan segala masakan"
Lha…kok jadi mirip iklan masako. Ah..susah banget, ternyata bikin puisi lebih sulit daripada menghitung kativa perusahaan. Kubuang kertas untuk ke lima kalinya. Aku mencoba berpikir lebih keras lagi.
" Andaikan hatimu sebuah sistem, jangan ada kata " you don’t have permission to acces it" untukku kalau gak mau di ping flood atau D dos attack"
Ah…..kacau pikiranku malah ke mesin. Adinda …cintaku padamu seperti energi realitifitas cahaya. Sangat cepat tak bisa tertandingi oleh energi apapun………." Lha…malah bahas fisika deh…"
Apa gue harus telepon si Rizal yaa??….ga..!! bisa runyam kalau dia tahu, bisa –bisa dia melarang gue untuk ikut pengajian " tanyaku pada diri sendiri
setelah membuang tiga pak kertas, akhirnya aku hanya bisa menuliskan kata-kata " Gadisku….aku sangat mencintaimu namun adakah kau mau..?
kuletakkan kertas berwarna pink bermotif bunga mawar itu ke dalam amplop yang senada. " Ehm….besok akan kuselipkan surat cinta ini di buku yang aku pinjam dari Hani, setelah itu dia akan membalas cintaku, kemudian aku akan memeperkenalkannya pada bunda." " Bunda, tgl 15 Desember saat hari ulang tahunmu, akanku perkenalkan calon mantumu". batinku riang.
***
Hari ini mas Bagus datang dari Jakarta, kaka semata wayangku itu datang secara tiba-tiba, katanya siih ingin menyiapkan surprise saat ulang tahunku. " Uhh..gak biasanya dia perhatian padaku".
25 Oktober jam 20.00 Hari ini adalah ulang tahunku yang ke 22, Bunda dan mas Bagus mengajakku keluar. Aku hanya mengikuti mereka tanpa ingin tahu tujuannya, oleh karena itu aku menolak tawaran bunda yang mengadakan pesta untuk memeperingati hari kelahiranku. " Selamat ulang tahun yaa…sayang…" ujar mama sambil mencium pipiku dengan segenap kasih sayang sebelum masuk mobil.
" selamat ulang tahun juga yaa….!! Kami akan menghadiahkan sesuatu yang akan berharga bagimu" seru mas bagus sambil memelukku. " Ehm….aku juga tidak mau kalah, tanggal 14 Desember, saat ulang tahun bunda aku juga akan mempersiapkan kado yang terindah" bisikku pada mas Bagus.
Sosok Hani kembali memenuhi pikiranku.." Ah….dia memang sosok yang sangat sempurna.".
Mobil kami memasuki komplek perumahan mewah setelah sampai, seorang pembantu rumah tangga membukakan pintu pagar lebar-lebar menyuruh kami masuk. Rumah yang mewah dan kebun yang diatur dengan rapi membuatku kagum dengan yang punya rumah. Tapi aku belum ingin menanyakan siapakah sang pemilik rumah dan kaitannya dengan kedatangan kami. Sesaat kemudian sepasang suami istri paruh baya datang menyambut kami dengan penuh kehangatan. Lalu mas bagus dan bunda saling bercakap-cakap. Tampaknya mereka sudah lama saling mengenal. Sebelumnya mas bagus memeperkenalkanku pada mereka. Aku sendiri memilih diam, hanya mendengarkan percakapan mereka. Dari situ aku tahu bahwa malam ini adalah pertunangan mas bagus dengan calon istrinya, Lina. Hadiah ulang taunku rupanya adalah seorang kaka ipar. " seperti apa ya..wajahnya? mungkinkah lebih cantik dari Hani?" tanyaku dalam hati.
Dua puluh menit kemudian keluar seorang gadis menggunakan gaun panjang dilengkapi kerudung putih bermotif bunga. Kepalanya sedikit menunduk.." Rif..!! ini calon istri mas, kaka iparmu!!" gadis itu mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Hani marlina, kita sudah saling kenal kan?" mas bagus sudah bercerita banyak tentangmu! ujarnya lembut.
Aku tidak yakin dengan pendengaranku. Lidahku kelu aku tak bisa berkata-kata, bagaiman dengan surat-surat itu?, bagaimana dengan hadiah pada tanggal 14 Desember? ah..aku malu ingin segera kutinggalkan tempat ini, Gadis itu adalah Hani alias Lina, kenapa aku tidak berfikir sebelumnya?..
Aku hanya terdiam terpaku saat mas bagus memakaikan cincin pada jari manis Hani. Ah…aku bener-bener sial !!!!
Selanjutnya....