assalamu'alaikum….! “ seru Zulaikho menyapa seisi rumah kontrak yang selama ini ia tempati bersama enam rekan satu kampus dengannya.
Waalaikum salam wr.wb….! “ jawab mbak mey satu dari rekan rekannya yang merupakan orang tertua diantara mereka.
“ sampean itu lo enduk, kok kebiasaan salam dengan di singkat begitu” ungkap mbak mey sedikit manasehati dengan logat jawanya yang khas.
“ he…he…he..! “ Zulaikhah hanya bisa meringis menahan malu.
“ akhir akhir ini mbak perhatikan sampean kok sibuk banget toh enduk, mpe jarang main ke kamar mbak” tanyanya pada zulaikhah yang akrab di panggil enduk itu.
“ ya mbak mey, zi memang akhir akhir ini sibuk, mau ngejar target, biar bisa presentasi akhir bulan ini. Do’ain ya mbak!” terang Zulaikhoh yang lebih suka dipanggil dengan zi nama kesayangannya.
“ insyaallah enduk, mbak mey selalu doa’kan “ jawab mbak mey optimis.
“ akhirnya… hampir keturutan cita citamu enduk, jadi physiciater “ ungkapnya pada zi..
“ ia sih kalau ijazah tertulisnya, tapi nggak janji bakal di akui masyarakat mbak, apalgi masih sekedar jebolan SI kaya’ saya nanti, lain kalau sudah profesor baru terakreditasi.
Tapi yang pasti mbak, paling tidak sehabis zi empat tahun menekuni ilmu physicology ini mbak, sedikit banyak zi dah dapat bekal, argument argument untuk meyakinkan ortu zi, sanak family juga para kerabat dekat yang telah meyakini bahwa kematian saudara kembar zi lima tahun silam, bukan karena ulah dukun santet, jampi jampi dan sejenisnya seperti yang mereka sangkakan, melainkan meninggalnya adalah meninggal secara wajar, semata mata karena dia dia menderita stres tekanan jiwa dan sakit mental”.
“ mbak setuju dengan zi, tapi hati hati menyampaikannya jangan terus kamu sok kementar di hadapan beliau beliau nanti, memang problem satu ini PR kita semua. Masyarakat kita msih enggan tuk menghapus kepercayaan pada klinik klinik seperti itu, dan ketika kita anjurkan mereka untuk menempuh pengobatan medis yang wajar, pergi ke rumah sakit atau dokter ahlinya juga masih sangat sulit. Tapi memang pantas kalau mereka lebih memilih dengan cara cara itu, sebab biayanya mmang jauh lebih miring di bandingklan ketika harus berobat ke rumah sakit atau dokter.”
“ memang mbak, sangat disayangkan sekali, Negara kita yang terkenal gemahripah loh jenawi , namun pemenuhan kesehatan murah masih aja belum tercapai. Harusnya ini PR nomor satu tuh buat pemerintah kita yang di atas sana. Gimana mau maju Negara ini kalau SDMnya aja sakit sakitan.”
“ mbak dukung zi”.
“ iya dah mbak, zi pamit balik ke kamar dulu, gerah banget pingin cepet cepet mandi,” pinta Zi sopan.
”Ya dah mandi sana, jangan lupa istirahat yang banyak yah, jangan mentang-mentang sibuk sampai kelupaan makan dan tidur lagi,” mbak Mey mengingatkan.
”Beres Mbak! Duluan ya, mikum…”
Zi pun berlalu dan Mbak May hanya bisa menggelang-gelengkan kepalanya sembari berkata , ”Anak-anak sekarang dah pada idealis-idealis pemikirannya, tapi mikum-mikum ituloh, wong salam yang intinya mendoakan kok malah disingkat-singkat.
Selesai mandi si Zi segara meraih kembali kursi belajarnya dengan kertas-kertas bertumpukan di atas mejanya yang seolah mereka telah menanti-nantikan kedatangannya.
Dah malem udara masih tetep panas juga. Ini baru tahun 2008, bagaimana dua puluh tahun mendatanng, Bandung bakal jadi lautan api lagi kayaknya … hi hi na’udzhubillah. Memang manusia tidak akan pernah ada puasnya membangun terus maunya, ada lingkungan mereka gak mereka perhatikan. “ ah mending bikin jus aja deh, terus nyicil baca baca tulisan plus interviewku sama dosen juga sama teman temantentang pengalaman cinta dimasa remaja mereka, kaya’nya seru, ungkapnya.
Sebuah ungkapan cinta sang benalu…dalam penantian ilalang rindu.
Baginya mencintai adalah proses memahami dan merekan. Mungkin
Itu terlalu sederhana untuk pengungkapan makna cinta. sebab, cinta bagi
Banyak orang adalah kesetiaan, setia beerarti menyertai selamanya. Lalu
Apakah harus memiliki selamanya ? ia rasa gak perlu cukup dengan merasa
cinta hadirlah cinta itu.
Memenjara cinta baginya adalah membunuh kemerdekaan. Cinta adlah
Awan yang mengembara bebas untuk singgah semaunya dimana saja.
Sebagaimana bunga diantara dedaunan yang menguncup awalnya
kemudian bersemi mekar dan mewangi. Tak perlu memetiknya untuk
dapat mengungkapkanperasaan cinta pada bunga. Dengan menciumi semerbak
harum wanginya, memandangi indah bentuk dan warnanya yang mempesona,
itu cukup. untuk apa? Kalau kemudian bunga itu menjadi layu, berpisah dari tangkainya
terpisahkan dari kesegaran dedaunannya, terenggut kebebasannya, jika sesudah itu ia
paling paling di buang begitu saja. Membuang cinta? Tidak.
Memang, memang cinta yang cukup untuk cinta . ya hanya cinta mencintai cinta.
Sebagaimana ciintaku kini padaNya yang Maha Pencinta.
Khurnain, mahasiswi UNPAD bandung 98-99
“ wao..teh Ain, gak kusangka, beliau juga pandai merangkai kata. Tapi, masak ia sih the Ain yang sebaik beliau, akademisnya oke, agamanya kuat, komunikatif dah gitu cantik lagi, cintanya pernah gak kesampaian, atau malah pernah di hianati. Siapa gerangan cowoknya itu, sesempurna apa dia? Tanya Zi dalamhati, dengan nada heran gak percaya akan apa yang pernah di alami satu kakak kelasnya yang sekaligus merupakan guru ngajinya. Darinya ia banyak belajar ilmu ilmu agama dank arena bertemu dengannya ia semakin termotivasi untuk lebih memperdalam kandungan alqur’an terutama setelah mendengar penuturannyayang ia peroleh dari saah satu dosen terpavoritnya bahwa semua kiat penyembuhan segala penyakit baik baik penyakit jasmani maupun jiwa, tekanan mental dan pikiran sudah tidak bisa di tempuh, maka satu satunya cara adalah di perdengarkan padanya kalam kalam Allah yang mu’jizatnya belum dan tidak akan tertandingi.
“ ehem…ehem, gi ngayal tentang pa sih , mpe ada orang masuk gak ketahuan”. Seru mbak mey mengagetkan.
“ eh.. ada mbak mey,.. he… gak ngayalin apa apa kok, lagi terheran aja sama tulisan the Ain
“ teh Ain ustadzah ngajimu itu ndok? “ Tanya mbak Mey, seolah teringatkan dengan sesosok perempuan yang pernah ia kenal.
“ giimana kabar sekarang beliau? kapan kamu ketemu lagi, salam mbak buat beliau?”
“ Alhamdulillah, beliau baik mbak. Insya allah kamis sore minggu ini Zi ada jadwal ngaji qur’an sama beliau. Insya allah Zi sampaikan.”
“ mbak mey, Zi boleh Tanya gk?
“ boleh “
Mbak Mey percaya gak sama keadilan tuhan? Soalnya Zi masih sering nemuin orang orang yang di mata Zi mereka itu sangat baik, akhlaknya terpuji, sholehah, yah seperti teh Ain lah contohnya, tapi masih ada yang menyakitinya. Terus tentang cinta atau jodoh naeh, menurut pendapat Zi, orang sebaik the Ain seharusnya mendapat suami yang gak jauh dari teh Ain, ko mlah sebaliknya bukannya allah telah berfirman : “ orang baik itu untuk orang baik “, terus dimana dong keadilan tuhan?.
“ ehh kamu tu enduk hati hati kalau ngomong. Iya, mbak sangat percaya tok, sama keadilan gusti Allah. Jangan kamu suka menghukumi sesuatu itu dari satu sisi saja. Siapa tahu mungkiin dengan cobaan cobaan itu malah menjadikannya lebih dekat dengan gudti allah. Kalau jodoh itu kan sudah menjadi kuasa allah, dan mbak juga sangat percaya dengan janjinya gusti allah , kalau orang baik itu juga imsya allah akan mendapat orang baik pula. Kalau mungkin terjadi disana yang namanya hianat, ganti istri, itu masalah hatinya manusia, bukan pada masalah keadilan tuhan. Kan gusti allah memang menjadikan hati kita dan disipatinya dengan qolab, yang artinya selalu berbolak balik. Maka itu kanjeng nabi saw sudah mengajarkan kepada kita agar selalu berdo’a supaya hati kita di tetapkan pada agamaNya yang sempurna, “ dan tidak mudah berbolak balik”.
“ udah kamu istirahat dulu aja, biar pikiran kamu gak kemana mana “.
“ eh tapi enduk.. kamu sendiri kapan menikah ? “ Tanya mbak mey”
“ wah … belum siap dan masih khawatir kalau nanti dapat suami yang nggak baik, apalagi kemarin waktu browsing dapat worning lagi bunyinya gini mbak.
“ waspadalah wahai kaum wanita ( istri ) ! “
Di zaman sekarang ini banyak kaum laki laki yang bercita cita untuk beristri lebih dari satu. Hati hatilah ! “ gitu mbak, kan nggak mau di madu. “
Kamu itu enduk, khawatirnya ya khawatir tapi jangan terlalu. Kalau mau pingin tahu seperti apa calon suamimu nanti, kamu pun sekarang sudah bisa ketahui sebenarnya”
“ caranya? “ Tanya semangat!”
Sekarang kamu ngaca dengan diri kamu. Kalau kamu sudah merasa beragama dengan baik, bakti kamu pada orang tua juga baik, insya allah calon yang di tetapkan gusti allah buat kamu nantinya yang gak jauh dari karekter dan kebiasaanmu. Kalau kebetulan kok jauh berbeda, percayalah kalau di balik semua itu pasti ada hikmahnya. Mungkin dengan begitu kamu jadi tahu kekuranganmu yang harus di sempurnakan.
“ kalau masalah di madu… memangnya mbak mau? “ Tanya ZI menantang “
“ memang wanita cendrung egois. Dan anak seumuran kamu masih cendrung berpikir Idealis.”
“ coba enduk bayangkan, kalau dalam islam nggak di syariatkan di perbolehkan istri lebih dari satu, akan menjadi sangat banyak sekali para wanita yang tidak akan mencicipi surga dunia. Bayangkan sekarang perbandingan kaum lelaki dan wanita saja 1 : 8, gimana lo, 20 tahun mendatang”
“ berarti mbak mau di poligami?”
“ bukan berearti begitu, beraharap sih ya semoga itu nggak terjadi, tapi kalaupun ia, ya tawakkal sama gusti sing kuasa ing atasi atase hati kawulo tu”
“ apa itu mbak? ZI nggak paham “
“ itu artinya bertawakkal dan sabar… enduk. Buah kesabaran itu manis. “
“ dah tidur, istirahat dulu kamu, besok bangun kesiangan lagi.”
Keesokan harinya dengan semangat baru Zi bergegas menuju bundaran KAA yang lumayan jauh dari kontrkannya. Kali ini ia tidak mengendarai sepeda motornya, ia lebih memilih naik bis Damri ber AC yang beroprasi menuju lokasi itu. Bus yang ia nantikan tak lama kemudian tiba, seketika ia masuk, terlihat bangku bangku bus masih kosong penumpang, namun begitu ia lebih memilih untuk mendekati seorang wanita yang duduk di deretan bangku ke -2 berkerudung biru muda di dekat jendela, yang ia yakini wanita itu bukan orang lain yang masih asing yang ia kenal sebelumnya
“ assalamualaikum” sapanya sopan”
“ waalaikum salam wr.wb. eh Zi “ jawab beliau seolah terkagetkan.
“ apakabar? Tumben ngebis , kemana motornya? Rusak,” Tanyanya heran”
“ kabar baik the, motor nggak rusak, tapi ini memang sengaja the, khawatir hari ini udara bandung akan semakin panas, yah macet macet dikit nggak jadi masalah, agar sulit tetap putih dan cerah, he…he… jawab Zi dengan sedikit canda riuhnya.
“ teh, tumben Busnya jam segini masih kosong, biasanya penuh desak desakan ? Tanya nya heran.
“ awalnya teteh juga heran, tapi keheranan teteh terjawab setelah membaca Koran pagi ini… cob abaca!” serunya pada Zi.
“ masya allah!. Kalau gini caranya bisa jadi kemarin menjadi hari terakhir Zi naik sepeda motor deh!”
“ maksudnya Zi”
“ iya the… gimana mau menikmati naik sepeda motor lagi kalau beli bensin aja Rp 10.000/liter, uaaah…bener bener pemerintahan sekarang ini!” ungkapnya kesel.
“ iya itu kan tugas utamamu sebagai mahasiswa, unjuk rasa dan demontrasi, perjuangkan nasib masyarakat kita Zi! Suarakan jiwa jisa edialis kalian mumpung kalian masih pada muda.
“ ooo yaaa… ngucapin kata muda, jadi ingat tema yang kamu ambil kemarin waktu interfiew. Boleh tau Zi, kok yang di ambil temanya tentang pengalaman cinta di masa muda/ remaja, kenapa?”
“ ooh tema itu teh.. gak tau juga, Zi juga heran ketika Zi mengajukan tema yang berbau social, problem belajar, rumah tangga, masyarakat, dosen pembimbing Zi gak menerima, giliran Zi mengajukan tema cinta ini, beliau lansung meng Acc”
“ wah .. dosen kamu gaul dong! “ seru teh ain.
“ kurang lebih begitu, tapi setelah Zi teliti, berdasarkan penelitian terkini, di nyatakan factor terbesar penyebab stresnya kaum muda sekarang 95% problem cinta. 72 % mikirin masa depan, terus 50% materi biaya kuliah, 25% karena ujian” jawab Zi meyakinkan.
“ aaah.. masak iya sih Zi, valid nggak tuh sumber datanya?” Tanya teh Ain meragukan.
“ bisa di jamin teh” jawab Zi penuh keyakinan.
“ kalau boleh tau teteh mau pergi kemana? , ke kampus? “ Tanya Zi”
“ nggak, kebetulan hari ini nggak ngampus. Ini mau menghadiri acara seminar yang di gelar di bundaran Kaa siang ini.”
“ seminar bedah buku bestseller tentang wanita mulimah itu?”
“ loh, kamu tau juga? “
“ lah ini juga mau kesan teh!”
“ nggak salah denger teteh, Zi mau menghadir seminar itu. “ Tanya heran sedikit meragukan.
“ yah teteh, masak gak percaya, beneren teh! “ ungkapnya meyakinkan.
“ bukan begitu Zi, soalnya teteh perhatikan, sekarang itu jarang sekali mahasiswa yang mau menghadiri acara seminar. Lain halnya kalau ada acara demo atau unjuk rasa, nggak ada yang ketinggalan.”
“ he..he..teteh memang bener, jadi tersinggung!”
“ tapi teh kali ini seminarnya lain.”
“ lainnya ?”
“ iya, karena di samping temanya temanya mengupas buku yang bestseller, penulisnya pun bener bener terakui hebat, beliau bisa mensihir para pembaca dengan rangkaian kata katanya, menyulap yang sudah sangat biasa bagi kita menjadi luar biasa. Dan satu lagi teh, doorprize hadirnyakan dapat bukunya dengan Cuma Cuma. Itu dia, kantong mahasiswa keseringan kangkernya, jadi jatah beli buku sampai nggak terlist jadinya. He….he…. kan lumayan teh!’’
“ ooo memangnya kamu itu, tapi memang bener, penulis penulis seperti beliaulah yang saat ini kaum muslimin butuhkan, jadi buku buku yang berbau agama tidak membosankan lagi, majalah majalah islami bisa jadi paforit pasaran” ungkapnya penuh harap.”
“ bus Damri ber AC itu terus melaju, mesti panas mentari mulai membakar, namun dia tetap bertahan membawa penumpang hingga tujuan. Penuh sesaknya jalan pun tak menjadi rintangan, yang pasti hanya satu yang menjadi impian, keselamatan penumpang. Itu yang di utamakan.
Zahrotus Saidah
Selanjutnya....
Pendidikan Seks, Pentingkah?
Posted by kkmi
Oleh Ellen Febry Vallentine
Ketika membaca judul di atas, saya yakin sebagian pembaca akan mengerutkan kening. Mungkin adat ketimuran yang kita anut, seks merupakan hal yang tabu. Seks adalah area pribadi yang tidak sepantasnya untuk dieksplor. Well, sebelum berbicara lebih jauh ada baiknya kalau kita samakan persepsi mengenai apa itu seks?
Banyak orang beranggapan bahwa berbicara mengenai seks tidak jauh dari membicarakan seputar suami istri, sehingga seks menjadi tabu untuk di bicarakan. Paradigma seperti inilah yang harus di perbaiki. M Sofyan Sauri S.Sos, selaku senior koordinator central mitra remaja (cmr) yang merupakan salah satu unit kegiatan dari perkumpulan keluarga berencana Indonesia (PKBI) menyebutkan: selama ini jika kita berbicara mengenai seks, maka yang terbesit dalam benak sebagian besar orang adalah hubungan seks, padahal seks sendiri artinya adalah jenis kelamin yang membedakan antara lelaki dan perempuan secara biologis. Seksualitas mencakup beberapa hal antara lain :
Dimensi biologis, yaitu berkaitan dengan organ reproduksi, cara merawat kebersihan dan kesehatan.
Dimensi psikologis, seksualitas berkaitan dengan identitas peran jenis, perasaan dalam seksualitas dan bagaimana menjalankan pungsinya sebagai makhluk social.
Dimensi Sosial, berkaitan dengan bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pendangan mengenai seksualitas dan pilihan prilaku seks.
Dimensi Kultural, menunjukan bahwa prilaku seks itu merupakan bagian dari budaya yang ada di masyarakat.
Dari sini bisa kita tarik kesimpulan, bahwa kecakupan seks itu luas sekali, tidak selalu membahas suami istri tapi lebih dari itu, seks mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia yang tidak bisa di pungkiri keberadaannya. Manusia adalah makhluk seksual,oleh karena itu sebagai manusia yang ideal,kita harus mampu memposisikan diri menurut identitas seksual kita. Maksudnya, ketika seseorang mampu memainkan peran sesuai jenis kelamin yang di akui oleh masyarakat, maka bisa dikatakan seseorang telah matang secara seksual. Hal ini penting agar seseorang memahami kewajiban dan tanggung jawab yang harus di pikulnya sebagai konsekuensi logis dari statusnya sebagai makhluk seksual. Bagaimana ia menjaga kesehatan alat reproduksinya, bagaimana ia bergaul dengan lawan jenisnya, bagaimana ia harus memilih pendamping hidup sampai pada bagaimana ia menjalani kehidupan rumah tangganya.
Apakah Pendidikan Seks?
Menurut kamus Wikipedia, “ sex education is a broad term used to describe education about human sexual anatomy,sexual reproduction, sexual intercourse,and other aspects of human sexual behavior”. Jadi pendidikan seks itu menjelaskan tentang anatomi seksual manusia,alat alat reproduksi hubungan seksual dan aspek aspek lain seputar prilaku seksual, yang memiliki kaitan dengan lawan jenis misalnya seorang wanita yang mencintai laki laki atau sebaliknya, dan ini merupakan prilaku seksual.
Dan yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, apakah wajar para remaja mengetaahui tentang seks? Di awal telah penulis paparkan bahwa manusia pada dasarnya makhluk seksual, jadi sah saah saja manusia punya rasa ingin tahu tentang seks itu, khususnya remaja yang rasa ingin tahunya sangat besar. Hanya saja yang menjadi masalah sekarang ini adalah ketiadaan fasilitas yang bisa menjawab rasa keingin tahuannya itu, baik dari pihak keluarga, sekolah, maupun masyarakat sehingga remaja merasa terabaikan dan kebutuhannya tidak terepenuhi. akhirnya ia mencoba menjawab rasa ingin tahunya itu lewat media media baik cetak seperti majalah , Koran atau elektronik seperti internet, televise dan sumber informasi lain.sementara kita tahu banyak dari media tersebut yang bukannya memfasilitasi remaja agar mempunyai persefsi yang benar tentang seks, justru menjerumuskan mereka dalam perilaku seks yang menyimpang akhirnya mereka kecanduan dengan VCD porno, komik porno dan gambar gambar cabul.
Remaja adalah masa transisi dari anak anak ke masa dewasa baik transisi dalam hal biologis, kognitif maupun social.transisi fisik pada remaja mulai berubahnya organ organ fisik, seperti pada laki laki: suara mulai membesar, tumbuhnya bulu bulu halus pada organ tertentu. Begitu juga pada perempuan yang mengalami transisi yang menandakan ia mulai matang secara biologis. Dan semua perubahan tersebut tentu daja mempengaruhi kehidupan seksualnya, yang dulunya cuek soal penampilan sekarang jadi suka dandan, dulunya masa bodoh jika ketemu dengan laki laki ganteng, sekarang berubah menjadi deg degan. Semua perubahan itu tentunya membutuhkan perhatian khusus dari lingkungannya bukan malah di tutup tutupi atau berusaha menghindar. Sebab ketika dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, ia akan terus mencari apakah itu dia bertanya kepada teman, browsing di internet, baaca majalah dll. Padahal belum tentu jawaban yang ia dapatkan bernilai edukasi.
Kontroversi Pendidikan Seks
Selama ini masyarakat memiliki stereotype yang keliru mengenai pendidikan seks, banyak yang menganggap pendidikan seks tabu dan kurang pantas di berikan, khususnya pada remajakarena akan membuat mereka semakin penasaran dengan seks dan di kuatirkan akan mencoba coba. Sekarang phenomena yang terjadi justru sebaliknya , ketika pendidikan seks tidak diberikan karena di anggap tabu, remaja justru semakin penasaran dan mencari jawaban dari sumber sumber yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Ada juga yang beranggapan untuk apa pendidikan seks, bukankah yang lebih penting adalah membentengi mereka dengan pendidikan agama yang kuat? Memang pendapat ini tidak salah tapi menurut saya adalah pendidikan agama merupakan sebagai dasar atau benteng bagi kita agar tidak terejerumus pada prilaku negative. Tapi apa itu bisa menjawab persoalan mereka? Belum tentu.
Bagaimanapun kita hidup di lingkungan heterogen dengan segala bentuk tingkah lakunya. Kita tidak bisa hidup hanya dalam dua hal : boleh dan tidak boleh, apalagi bagi remaja yang kluktuasi emosinya belum stabil, semakin dilarang justru semakin penasaran. Terkadang sulit bagi kita untuk membedakan mana hal yang boleh dilakukan dan yang tidak, seiring pergesekan nilai dalam masyarakat. Dulu mojok berduaan saja sudah di sorakin, dan orang cendrung malu mengumbar kemesraan di depan umum. Tapi sekarang justru sebaliknya, orang di anggap kampungan kalau tidak punya pacar, begitu juga orang tua akan mresah melihat anaknya tidak punya pacar takut anaknya tidak laku atau sulit dapat jodoh.
Sayangnya dari pihak keluarga ssendiri khususnya orang tua kurang siap menghadapi perubahan tersebut. Ada orang tua yang selalu memprotect snsknys, ini gak boleh, itu gak boleh, tanpa member pemahaman kepada si anak kenap ini boleh dan tidak. Anak tidak di berikan kesempatan untuk menentukan sikap sendiri memilah dan memilih mana yang baik dan tidak sehingga jangan kaget jika ada anak yang bermuka dua, dirumah dia anak manis tapi ketika di luar dia anak yang liar.seperti halnya pendidikan seks yang masih menjadi kontraversi. Disatu sisi orang masih merasa malu untuk membahas tentang seks, tapi disis lain dengan tidak di berikan pendidikan seks anak tidak akan mendapat pemahaman yang benar tentang seks, dan dari ketidak pahamannya itulah ia tidak merasa bertanggung jawab atas kehidupan seksualnya.
Sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan, tinggal pendidikan seks yang bagaimana yang harus di berikan? Yang perlu di ingat belajar tentang seks berbeda dengan belajar keterampilan tertentuseperti belajar memasak agar kitaa tahu resep apa yang di pakai supaya masakan yang di buat terasa enak,namun belajar seks bukanlah untuk mengetahui bagaimana aktifitas seks yang aman, belajar seks lebih bertujuan untuk menjaga diri kita dari prilaku seks yang menyimpang.
Penerapan Sex Education
Memberikan pendidikan seks itu gampang gampang susah, kalau terlalu di biuka berbahaya, di tutup tutupi juga tidak baik. Yang paling pas adalah memasukkkan sex education kedalam kurikulum sekolah. Karena dengan itu materi yang di sampaikan tidak akan ngelantur kemana mana dan di deduaikan dengan tingkat pemahaman anak. Dan konsekuaensinya harus ada tenaga ahli yang kompeten di bidangnya untuk mengemas materi tersebut.dalam artian menetapkan bahan pelajarannya, standar kompetensinyaindikator pencampaiannya seperti apa, sekaligus mampu menyampaikan dengan baik.
Saya pikir sudah mulai banyak sekolah sekolah yang menrapkan seks education, dengan menyisipkannya kedalam pelajaran biologi atau bimbingana karir misalnya.hanya saja hal sepeti itu saya pikir kurang maksimal karena yang terjadi salama ini anak cendrung malu dan kurang tterbuka untuk bertanya dan menyampaikan pendapatnya. Sebaiknya untuk materi sex education memang di sediakan waktu khusus dengan kelas yang khusus pula, maksud di bedakan antara kelas laki laki dan perempuan agar penyampainnya bisa maksimal.
Namun bukan berarti dengan di masukkannya pendidikan seks kedalam kurikulum sekolah, hanya sekolah saja yang bertangggung jawabterhadap masalah ini. Keluarga dan masyarakatpun diharapkan memiliki andil dengan menanamkan rasa malu sejak kecil misalnya atau dengan tidak teus terusan menyajikan hiburan seronok yang bisa merusak mental remaja.untuk itu kesimpulannya adalah bahwa pendidikan seks sangat penting di berikan kepada remajaagar mempunyai pemahaman yang benar mengenai seks dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Karena remajalah yang nantinya akan meneruskan tonggak perjuangan suatu bangsa.
Selanjutnya....
Ketika membaca judul di atas, saya yakin sebagian pembaca akan mengerutkan kening. Mungkin adat ketimuran yang kita anut, seks merupakan hal yang tabu. Seks adalah area pribadi yang tidak sepantasnya untuk dieksplor. Well, sebelum berbicara lebih jauh ada baiknya kalau kita samakan persepsi mengenai apa itu seks?
Banyak orang beranggapan bahwa berbicara mengenai seks tidak jauh dari membicarakan seputar suami istri, sehingga seks menjadi tabu untuk di bicarakan. Paradigma seperti inilah yang harus di perbaiki. M Sofyan Sauri S.Sos, selaku senior koordinator central mitra remaja (cmr) yang merupakan salah satu unit kegiatan dari perkumpulan keluarga berencana Indonesia (PKBI) menyebutkan: selama ini jika kita berbicara mengenai seks, maka yang terbesit dalam benak sebagian besar orang adalah hubungan seks, padahal seks sendiri artinya adalah jenis kelamin yang membedakan antara lelaki dan perempuan secara biologis. Seksualitas mencakup beberapa hal antara lain :
Dimensi biologis, yaitu berkaitan dengan organ reproduksi, cara merawat kebersihan dan kesehatan.
Dimensi psikologis, seksualitas berkaitan dengan identitas peran jenis, perasaan dalam seksualitas dan bagaimana menjalankan pungsinya sebagai makhluk social.
Dimensi Sosial, berkaitan dengan bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pendangan mengenai seksualitas dan pilihan prilaku seks.
Dimensi Kultural, menunjukan bahwa prilaku seks itu merupakan bagian dari budaya yang ada di masyarakat.
Dari sini bisa kita tarik kesimpulan, bahwa kecakupan seks itu luas sekali, tidak selalu membahas suami istri tapi lebih dari itu, seks mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia yang tidak bisa di pungkiri keberadaannya. Manusia adalah makhluk seksual,oleh karena itu sebagai manusia yang ideal,kita harus mampu memposisikan diri menurut identitas seksual kita. Maksudnya, ketika seseorang mampu memainkan peran sesuai jenis kelamin yang di akui oleh masyarakat, maka bisa dikatakan seseorang telah matang secara seksual. Hal ini penting agar seseorang memahami kewajiban dan tanggung jawab yang harus di pikulnya sebagai konsekuensi logis dari statusnya sebagai makhluk seksual. Bagaimana ia menjaga kesehatan alat reproduksinya, bagaimana ia bergaul dengan lawan jenisnya, bagaimana ia harus memilih pendamping hidup sampai pada bagaimana ia menjalani kehidupan rumah tangganya.
Apakah Pendidikan Seks?
Menurut kamus Wikipedia, “ sex education is a broad term used to describe education about human sexual anatomy,sexual reproduction, sexual intercourse,and other aspects of human sexual behavior”. Jadi pendidikan seks itu menjelaskan tentang anatomi seksual manusia,alat alat reproduksi hubungan seksual dan aspek aspek lain seputar prilaku seksual, yang memiliki kaitan dengan lawan jenis misalnya seorang wanita yang mencintai laki laki atau sebaliknya, dan ini merupakan prilaku seksual.
Dan yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, apakah wajar para remaja mengetaahui tentang seks? Di awal telah penulis paparkan bahwa manusia pada dasarnya makhluk seksual, jadi sah saah saja manusia punya rasa ingin tahu tentang seks itu, khususnya remaja yang rasa ingin tahunya sangat besar. Hanya saja yang menjadi masalah sekarang ini adalah ketiadaan fasilitas yang bisa menjawab rasa keingin tahuannya itu, baik dari pihak keluarga, sekolah, maupun masyarakat sehingga remaja merasa terabaikan dan kebutuhannya tidak terepenuhi. akhirnya ia mencoba menjawab rasa ingin tahunya itu lewat media media baik cetak seperti majalah , Koran atau elektronik seperti internet, televise dan sumber informasi lain.sementara kita tahu banyak dari media tersebut yang bukannya memfasilitasi remaja agar mempunyai persefsi yang benar tentang seks, justru menjerumuskan mereka dalam perilaku seks yang menyimpang akhirnya mereka kecanduan dengan VCD porno, komik porno dan gambar gambar cabul.
Remaja adalah masa transisi dari anak anak ke masa dewasa baik transisi dalam hal biologis, kognitif maupun social.transisi fisik pada remaja mulai berubahnya organ organ fisik, seperti pada laki laki: suara mulai membesar, tumbuhnya bulu bulu halus pada organ tertentu. Begitu juga pada perempuan yang mengalami transisi yang menandakan ia mulai matang secara biologis. Dan semua perubahan tersebut tentu daja mempengaruhi kehidupan seksualnya, yang dulunya cuek soal penampilan sekarang jadi suka dandan, dulunya masa bodoh jika ketemu dengan laki laki ganteng, sekarang berubah menjadi deg degan. Semua perubahan itu tentunya membutuhkan perhatian khusus dari lingkungannya bukan malah di tutup tutupi atau berusaha menghindar. Sebab ketika dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, ia akan terus mencari apakah itu dia bertanya kepada teman, browsing di internet, baaca majalah dll. Padahal belum tentu jawaban yang ia dapatkan bernilai edukasi.
Kontroversi Pendidikan Seks
Selama ini masyarakat memiliki stereotype yang keliru mengenai pendidikan seks, banyak yang menganggap pendidikan seks tabu dan kurang pantas di berikan, khususnya pada remajakarena akan membuat mereka semakin penasaran dengan seks dan di kuatirkan akan mencoba coba. Sekarang phenomena yang terjadi justru sebaliknya , ketika pendidikan seks tidak diberikan karena di anggap tabu, remaja justru semakin penasaran dan mencari jawaban dari sumber sumber yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Ada juga yang beranggapan untuk apa pendidikan seks, bukankah yang lebih penting adalah membentengi mereka dengan pendidikan agama yang kuat? Memang pendapat ini tidak salah tapi menurut saya adalah pendidikan agama merupakan sebagai dasar atau benteng bagi kita agar tidak terejerumus pada prilaku negative. Tapi apa itu bisa menjawab persoalan mereka? Belum tentu.
Bagaimanapun kita hidup di lingkungan heterogen dengan segala bentuk tingkah lakunya. Kita tidak bisa hidup hanya dalam dua hal : boleh dan tidak boleh, apalagi bagi remaja yang kluktuasi emosinya belum stabil, semakin dilarang justru semakin penasaran. Terkadang sulit bagi kita untuk membedakan mana hal yang boleh dilakukan dan yang tidak, seiring pergesekan nilai dalam masyarakat. Dulu mojok berduaan saja sudah di sorakin, dan orang cendrung malu mengumbar kemesraan di depan umum. Tapi sekarang justru sebaliknya, orang di anggap kampungan kalau tidak punya pacar, begitu juga orang tua akan mresah melihat anaknya tidak punya pacar takut anaknya tidak laku atau sulit dapat jodoh.
Sayangnya dari pihak keluarga ssendiri khususnya orang tua kurang siap menghadapi perubahan tersebut. Ada orang tua yang selalu memprotect snsknys, ini gak boleh, itu gak boleh, tanpa member pemahaman kepada si anak kenap ini boleh dan tidak. Anak tidak di berikan kesempatan untuk menentukan sikap sendiri memilah dan memilih mana yang baik dan tidak sehingga jangan kaget jika ada anak yang bermuka dua, dirumah dia anak manis tapi ketika di luar dia anak yang liar.seperti halnya pendidikan seks yang masih menjadi kontraversi. Disatu sisi orang masih merasa malu untuk membahas tentang seks, tapi disis lain dengan tidak di berikan pendidikan seks anak tidak akan mendapat pemahaman yang benar tentang seks, dan dari ketidak pahamannya itulah ia tidak merasa bertanggung jawab atas kehidupan seksualnya.
Sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan, tinggal pendidikan seks yang bagaimana yang harus di berikan? Yang perlu di ingat belajar tentang seks berbeda dengan belajar keterampilan tertentuseperti belajar memasak agar kitaa tahu resep apa yang di pakai supaya masakan yang di buat terasa enak,namun belajar seks bukanlah untuk mengetahui bagaimana aktifitas seks yang aman, belajar seks lebih bertujuan untuk menjaga diri kita dari prilaku seks yang menyimpang.
Penerapan Sex Education
Memberikan pendidikan seks itu gampang gampang susah, kalau terlalu di biuka berbahaya, di tutup tutupi juga tidak baik. Yang paling pas adalah memasukkkan sex education kedalam kurikulum sekolah. Karena dengan itu materi yang di sampaikan tidak akan ngelantur kemana mana dan di deduaikan dengan tingkat pemahaman anak. Dan konsekuaensinya harus ada tenaga ahli yang kompeten di bidangnya untuk mengemas materi tersebut.dalam artian menetapkan bahan pelajarannya, standar kompetensinyaindikator pencampaiannya seperti apa, sekaligus mampu menyampaikan dengan baik.
Saya pikir sudah mulai banyak sekolah sekolah yang menrapkan seks education, dengan menyisipkannya kedalam pelajaran biologi atau bimbingana karir misalnya.hanya saja hal sepeti itu saya pikir kurang maksimal karena yang terjadi salama ini anak cendrung malu dan kurang tterbuka untuk bertanya dan menyampaikan pendapatnya. Sebaiknya untuk materi sex education memang di sediakan waktu khusus dengan kelas yang khusus pula, maksud di bedakan antara kelas laki laki dan perempuan agar penyampainnya bisa maksimal.
Namun bukan berarti dengan di masukkannya pendidikan seks kedalam kurikulum sekolah, hanya sekolah saja yang bertangggung jawabterhadap masalah ini. Keluarga dan masyarakatpun diharapkan memiliki andil dengan menanamkan rasa malu sejak kecil misalnya atau dengan tidak teus terusan menyajikan hiburan seronok yang bisa merusak mental remaja.untuk itu kesimpulannya adalah bahwa pendidikan seks sangat penting di berikan kepada remajaagar mempunyai pemahaman yang benar mengenai seks dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Karena remajalah yang nantinya akan meneruskan tonggak perjuangan suatu bangsa.
Labels:
artikel
Generasi Rabbani yang Futuristik dan Paganisme Globalisasi
Posted by kkmi
(Primus Inter Pares atau The Best among the Bad)
Dulu, globalisasi membuat saya enggan untuk melangkahkan kaki…
Malu untuk mengangkatkan muka…
Malas untuk menggerakkan tangan…
Tetapi sekarang, saya bersemangat…
Mengaktualisasikan diri menjadi salah satu dari barisan para generasi rabbani…
Sudah menjadi hal yang lumrah ketika banyak orang mengatakan bahwa dekadensi moral yang menghinggapi generasi muda sudah mencapai pada titik yang sangat menghawatirkan. Ibarat penyakit kanker yang terus menggerogoti kesehatan manusia sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Seperti itulah yang kita hawatirkan, dekadensi moral yang terus menunjukan peningkatan dalam setiap aspeknya dapat menyebabkan hancurnya bangsa tercinta ini. Akhirnya, keinginan bersama untuk memajukan bangsa akan terhenti ditengah jalan.
Nakal! kiranya kalimat itulah yang terlontar dari para orang tua menanggapi tingkah laku sebagian remaja zaman sekarang. Dalam bukunya Rules of Sociological Method, Emile Durkheim menjelaskan bahwa, perilaku menyimpang atau jahat jika terjadi dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal, selama tidak disengaja dan sampai pada batas-batas ketika masyarakat merasa resah dengan munculnya kejahatan tersebut.
Namun apa yang akhir-akhir ini terjadi? kita melihat jelmaan penyimpangan yang merajarela, kita mendengar teriakan kejahatan yang menggema dan kita merasakan hawa kebengisan yang terus menghantui kita. Jangan aneh, kalau bukan generasi muda, maka siapa lagi actor leading-nya? miris bukan? itulah yang terjadi dihadapan kita sekarang.
Maka, “kenakalan multidimensional” menjadi kalimat yang tepat untuk mewakili realitas faktual ini. Betapa tidak? Dari kenakalan biasa, bersifat amoral dan tidak ada dalam undang-undang sampai kenakalan yang bersifat pelanggaran dan kejahatan, telah nampak didepan pintu rumah kita.
Tawuran menjadi solusi bagi mereka yang merasa terusik oleh temannya dari kelompok lain, meskipun dalam permasalahan yang sangat spele. Kepalan tangan dan bongkahan kayu seolah wajib mereka hantamkan kepada siapa saja yang bermasalah dengannya. Mereka tidak lagi memikirkan akibat dan kerugian yang akan dideritanya nanti.
Tidak hanya berhenti sampai disana, didukung dengan keadaan jiwanya yang sedang dalam “pencarian identitas”, mereka menyambut baik datangnya sebuah kebudayaan yang entah dari mana awalnya dan tidak diketahui sampai dimana akan berakhir. Beramai-ramai mereka minum minuman keras, beramai-ramai mereka menghisap sabu, narkotika dan obat-obat terlarang. Entah berapa bungkus mereka habiskan setiap harinya, yang pasti, kurva penggunaan minuman keras, narkotika dan obat-obat terlarang menunjukan peningkatan yang sangat pesat dan terus berkembang.
Bukan hanya itu, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, di satu sisi memudahkan kita semua untuk mengakses hal-hal baru, meraih informasi, menggali pengetahuan dan meperluas wawasan, dan disisi lain memudahkan kita untuk mengakses hal-hal yang pada hakikatnya dahulu dianggap tabu. Kini semua itu bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja, termasuk dalam layar yang kecil mungil seperti dalam Hand phone. Para pengguna internet dapat dengan mudah menikmati situs pornografi yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Dari mulai yang bisa dinikmati dengan gratis, sampai dengan yang harus bayar dengan harga tinggi.
Fenomena ini semua adalah nyata. Perangkat teknologi multimedia mutakhir telah menjadikan sesuatu serba mungkin, menghadirkan apa yang kita cari tanpa membutuhkan banyak ruang dan waktu. Marshall McLuham mengibaratkan dunia yang luas ini sebagai global village dan borderless word. Artinya, Semua batas yang ada didunia ini hilang begitu saja. Hilang sudah batas dunia wilayah Amerika, Indonesia dan Cina. Hilang sudah batas dunia usia anak-anak, remaja dan dewasa. Semuanya diberikan kesempatan untuk mengaksesnya tanpa halangan apapun. Hilangnya batas-batas tersebut, mengakibatkan hancur dan punahnya khazanah budaya lokal, yang pada hakikatnya merupakan ciri khas sebuah bangsa.
Masa remaja merupakan suatu masa transisi dari anak menjadi dewasa, sebuah masa yang sangat menentukan dalam sejarah hidup setiap manusia. Mentalnya diuji dengan berbagai fenomena yang terus menghadangnya, karena generasi muda adalah generasi penerus bangsa yang dituntut mempunyai mental yang tahan banting, dan terus berupaya meningkatkan kualitas dirinya untuk bersaing secara sehat, dengan siapa saja yang telah memproklamirkan dirinya siap bersaing dalam dunia tanpa batas, yang kita kenal dengan istilah globalisasi.
Pemaknaan Globalisasi memang agak rumit, karena sangat kompleks, berkaitan dengan segala aspek kehidupan, meski pada awalnya hanya berhubungan dengan aspek perekonomian saja. Setiap para ahli dibidangnya pun berbeda memaknainya. Misalnya Anthony Giddens penulis buku terkenal yang berjudul Runaway World, How Globalisation is Reshaping Our Life, memaknai globalisasi sebagai intensifikasi hubungan sosial di segenap penjuru dunia yang menghubungkan wilayah-wilayah yang berjauhan dengan metode khusus, sehingga apa yang terjadi pada tingkat lokal dapat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang berlangsung di tempat lain, begitu juga sebaliknya.
Dalam istilah Thomas Friedman, globalisasi yang terjadi sekarang “semakin jauh, semakin cepat, semakin dalam dan semakin murah…”Globalisasi memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk tampil sebagai actor leading. Dengan kekuatannya yang dahsyat, globalisasi menghancurkan dinding-dinding pembatas, yang selama ini membatasi unsur-unsur yang terkait. Meminjam istilah David Held yang mejelaskan bahwa, sedikitnya dengan globalisasi ada dua fenomena yang muncul ke permukaan. Yaitu melonggarnya rantai-rantai yang membatasi aktivitas politik, ekonomi, dan sosial sehingga scoupe semua aktivitas tersebut kini membentang seluas dunia, dan semakin intensnya tingkat interaksi dan hubungan di dalam dan di antara negara-negara serta masyarakat.
Dua orang Profesor dari Harvard University, Robert O. Koehane dan Joseph S. Nye Jr. menjelaskan bahwa Globalisasi yang terjadi sekarang adalah thick globalization, telah menyentuh siapapun dan dimanapun, bisa dilihat dari semakin padatnya jaringan (density of network), semakin cepatnya lembaga-lembaga dunia berhubungan (Institutional velocity) dan munculnya sifat saling ketergantungan diantara mereka.
Effendi Hasan dalam tulisannya Globalisasi dan pengaruhnya terhadap Negara miskin, yang dimuat di www.acehinstitute.org, menyebutkan bahwa lahirnya globalisasi memiliki banyak faktor, diantaranya adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Mitchell dan Tonelson. Lahirnya globalisasi diseluruh dunia adalah akibat tindakan kongres Amerika di bawah pimpinan presiden Reagen yang menjalankan kebijakan Neo-Liberalisme pada tahun 1984 yang bertujuan untuk merubah kebijakan, menghindari kemerosotan ekonomi yang telah menimpa seluruh Negara pada waktu itu. Melalui kebijakan liberalisasi, deregulasi, dan penswastaan yang menyebabkan investor Amerika Serikat lebih banyak berivestasi di luar negeri. Kebijakan Amerika ini diikuti oleh Negara Inggris yang dipimpin oleh Margaret Thatcher. Apa yang dilakukan oleh kedua Negara tersebut menyebabkan terjadinya persaingan secara besar-besaran dalam aspek multinational. Akibatnya gelombang besar globalisasi tak terbendung. Hal ini juga mnyebabkan tercetusnya engine of the growth atau terjadinya perubahan struktural dalam setiap aspek kehidupan diseluruh dunia dalam segala aspeknya, yang berbeda dan tidak pernah dialami oleh umat manusia pada masa-masa sebelumnya.
Kalau memang demikian, globalisasi merupakan sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa. Globalisasi adalah neo-liberalisme dan kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara yang kuat, kaya dan mampu bertahan akan terus hidup (survival of the fites) dan akan mampu mendominasi serta mengendalikan perekonomian dunia. Sebaliknya, negara-negara lemah dan miskinmakin tak berdaya sampai pada akhirnya hancur lebur karena tidak mampu bersaing.
Pada dasarnya, ternyata dominasi yang telah terjadi dan berasal dari globalisasi ini telah mengarungi beberapa fase yang sangat panjang dan berkaitan satu sama lainnya. Mulai dari fase kolonialisme di Eropa yang mendominasi negara-negara lainnya dengan imperialisme, hegemoni, penjajahan dan penindasan. Setelah keadilan dan panji kemerdekaan tertancap diberbagai negara, kolonialisme mulai tidak menampakkan kebengisannya. Tetapi sayang, dominasi masih saja terjadi. Meski dominasi ini tidak menggunakan kontak fisik, dominasi muncul dengan seperangkat ideologi yang disisipkan dalam kepentingan ekonomi, poitik dan budaya. Ya, masa ini dikenal dengan neo-kolonialisme atau fase pembangunan dan masa developmentalisme. Negara-negara yang baru merdeka ini berada dalam kekuasaan satu negara super power yang telah menancapkan ideologinya dengan sangat kejam. Kemudian lahirlah Fase terakhir yang dapat kita saksikan sekarang ini dengan ditandai oleh liberalisasi dalam segala bidang. Berawal dari terbentuknya GATT (General Agreement Trade and Tariff) hingga WTO (World Trade Organization) yang bekerjasama dengan lembaga donor international seperti IMF dan Bank Dunia. Inilah era yang kita kenal dengan globalisasi.
Nah, konsekuensi dari partisipasi menjadi anggota WTO adalah diadopsinya persyaratan-persyaratan liberalisasi perdagangan dan teori-teori ekonomi positivistik ke dalam Undang-Undang. Seperti Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1994 tentang investasi yang mensyaratkan diperbolehkannya kepemilikan saham 100% penanaman modal asing. Undang-undang ini membuka kesempatan kepada perusahaan-perusahaan multinational dengan modal besar untuk menguasai Sumber Daya Usaha sehingga menyebabkan matinya perusahaan dalam negeri karena tidak mampu bersaing.
Globalisasi tidak serta merta memberikan keuntungan bagi suatu negara. Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Carunia Mulya Firdausy, globalisasi ekonomi melalui pengurangan tarif dan subsidi sebesar 30 persen justru merugikan Indonesia hingga US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 17,1 triliun per tahun. (tempointeraktif.com, Selasa, 19 September 2006 ).
Begitulah maksud dan tujuan dari globalisasi, menciptakan sifat ketergantungan dari negara miskin kepada negara-negara kaya. Dengan ketergantungan itu, kebijakan pemerintah khususnya dalam aspek Ekonomi selalu berubah-rubah, demi melayani kepentingan negara kaya. Keadaan Negara menjadi gonjang-ganjing tak menentu. Hal ini membawa dampak negatif bagi seluruh elemen yang ada tanpa terkecuali termasuk kepada generasi muda, bahkan mungkin, generasi muda ini merupakan sasaran utama dari globalisasi. Banyak dari generasi muda yang menerima globalisasi begitu saja tanpa adanya filterisasi terhadap apa yang dia terima, sehingga dia menerima apa saja karena dianggap bahwa arus globalisasi adalah arus yang mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran. Akibatnya dia terjebak kepada suatu hal yang sebenarnya asing dan tidak layak berada dilingkungannya.
Globalisasi dengan segala aspeknya, telah membawa generasi muda kepada nilai-nilai positif yang selalu bisa diambil hikmahnya, tetapi disisi lain dan kebanyakan, globalisasi membawa generasi muda kepada nilai-nilai yang kosong dari spirit, bahkan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kenistaan yang sangat dalam. Generasi muda terpengaruh oleh hal-hal baru yang bersifat mewah, modern dan trendi. Seperti yang telah dipaparkan di awal.
Berkaitan dengan hal ini, memperbaiki akhlak dan moral generasi muda tidaklah gampang, tidak semudah membalikkkan telapak tangan. Apalagi di era globalisasi yang mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat seperti ini. Pertama, orang tua merupakan benteng awal, sebagai orang yang paling dekat dengan anak-anaknya, yang selalu memperhatikan perkembangan setiap anak-anaknya dan melindunginya dari berbagai asupan yang digemarinya dari pengetahuan, budaya dll. Kedua, Intansi Pendidikan merupakan benteng kedua setelah orang tua, diharapkan agar mampu menjalankan perannya dengan baik sebagai wadah pengelolaan Sumber Daya Manusia yang cerdas dan berakhlakul karimah. Ketiga, Pemerintah menjadi benteng ketiga, mempunyai peran yang sangat besar dalam menentukan kebijakan-kebijakan dan perudang-udangan yang berkaitan dengan kesejahteraan dan moralitas bangsanya. Kerusakan yang dialami oleh generasi muda merupakan tanda kehancuran sebuah bangsa. Setiap orang harus menjadi contoh yang baik bagi teman disampingnya. Ini merupakan pekerjaan besar bagi kita semua, setiap elemen bertanggung jawab atas munculnya barisan generasi harapan Agama dan Bangsa yaitu generasi rabbani.
Dalam Agama Islam, mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran, merupakan satu kesempatan mulia yang diberikan kepada setiap orang tanpa terkecuali, tua muda, wanita dan laki-laki. Dari mulai anjuran untuk saling nasehat menasehati diantara teman, sampai aspek Amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan oleh sebuah organisasi atau para pemimpin yang kita kenal dengan istilah Ulil Amri. Yang harus disadari adalah, kewajiban Amar ma’ruf nahi munkar dalam hal ini merupakan tongkat estafet yang pasti sampai kepada kita sebagai generasi muda yang akan terus berganti seiring dengan pergantian zaman. Maka kita adalah generasi rabbani. Generasi rabbani dituntut untuk mampu mengemban amanah ini. Diharapkan agar dapat melestarikan Islam dalam segala sendi kehidupan, tanpa terjebak kedalam penafsiran prinsip keagamaan yang kaku dan stagnan serta tidak terobsesi kepada penafsiran prinsip keagamaan yang bebas tanpa batas dengan mendobrak kaidah-kaidah yang pada hakikatnya tidak perlu diperdebatkan kembali.
Kita lihat bagaimana Islam bisa sampai kepada pelosok dunia, dibawa oleh seorang generasi terbaik sepanjang sejarah yang menyatukan seluruh masyarakat dengan Agama yang berbeda dibawah suatu piagam yang dikenal dengan piagam Madinah, yang mampu mengkonsep suatu sistem negara Islam yang mampu berdiri kokoh, yaitu Nabi Muhammad SAW. Kemudian diteruskan oleh generasi yang ta’at dan memegang teguh prinsip keagamaan dengan penuh keteguhan yaitu para sahabat rasulullah. Kemudian diteruskan kepada generasi selanjutnya yang terus melestarikan Islam diberbagai benua melalui pemerintahan Umayah, ‘Abasiyah, sampai kemudian berakhir pada pemerintahan Utsmaniyah. Ya, mereka semua adalah generasi rabbani.
Generasi rabbani pada zaman sekarang adalah generasi rabbani yang futuristik, generasi muda yang mampu merespon globalisasi dengan cerdas, kritis, progressif, kreatif dan inovatif. Karena memang kalau sudah seperti ini, globalisasi tidak bisa terelakkan lagi. Globalisasi adalah tantangan yang harus dipelajari dan difahamai dengan benar sehingga bisa dilalui dan dimanfa'atkan dengan baik.
Generasi rabbani harus merespon kemajuan Barat beserta globalisasinya dengan cerdas dan kreatif. Merespon kemjaun ilmu pengetahuan Barat dengan belajar penuh semangat. Generasi rabbani adalah tulang punggung dan motor penggerak kemajuan sebuah Negara. Sebagai generasi penerus bangsa yang tangguh, ulet, dituntut untuk selalu memperkaya wawasan dan meningkatkan kualitas dirinya dalam berbagai aspek, baik moral maupun intelektual. Diharapkan agar dapat berpartisipasi aktif dalam membanguan karakter bangsanya yang khas dan dapat meraih cita-cita sebuah bangsa yang aman, tenram, sejahtera dan bermartabat, dengan meraih predikat Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. _Dani Moh. Ramdani.
Selanjutnya....
Dulu, globalisasi membuat saya enggan untuk melangkahkan kaki…
Malu untuk mengangkatkan muka…
Malas untuk menggerakkan tangan…
Tetapi sekarang, saya bersemangat…
Mengaktualisasikan diri menjadi salah satu dari barisan para generasi rabbani…
Sudah menjadi hal yang lumrah ketika banyak orang mengatakan bahwa dekadensi moral yang menghinggapi generasi muda sudah mencapai pada titik yang sangat menghawatirkan. Ibarat penyakit kanker yang terus menggerogoti kesehatan manusia sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Seperti itulah yang kita hawatirkan, dekadensi moral yang terus menunjukan peningkatan dalam setiap aspeknya dapat menyebabkan hancurnya bangsa tercinta ini. Akhirnya, keinginan bersama untuk memajukan bangsa akan terhenti ditengah jalan.
Nakal! kiranya kalimat itulah yang terlontar dari para orang tua menanggapi tingkah laku sebagian remaja zaman sekarang. Dalam bukunya Rules of Sociological Method, Emile Durkheim menjelaskan bahwa, perilaku menyimpang atau jahat jika terjadi dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal, selama tidak disengaja dan sampai pada batas-batas ketika masyarakat merasa resah dengan munculnya kejahatan tersebut.
Namun apa yang akhir-akhir ini terjadi? kita melihat jelmaan penyimpangan yang merajarela, kita mendengar teriakan kejahatan yang menggema dan kita merasakan hawa kebengisan yang terus menghantui kita. Jangan aneh, kalau bukan generasi muda, maka siapa lagi actor leading-nya? miris bukan? itulah yang terjadi dihadapan kita sekarang.
Maka, “kenakalan multidimensional” menjadi kalimat yang tepat untuk mewakili realitas faktual ini. Betapa tidak? Dari kenakalan biasa, bersifat amoral dan tidak ada dalam undang-undang sampai kenakalan yang bersifat pelanggaran dan kejahatan, telah nampak didepan pintu rumah kita.
Tawuran menjadi solusi bagi mereka yang merasa terusik oleh temannya dari kelompok lain, meskipun dalam permasalahan yang sangat spele. Kepalan tangan dan bongkahan kayu seolah wajib mereka hantamkan kepada siapa saja yang bermasalah dengannya. Mereka tidak lagi memikirkan akibat dan kerugian yang akan dideritanya nanti.
Tidak hanya berhenti sampai disana, didukung dengan keadaan jiwanya yang sedang dalam “pencarian identitas”, mereka menyambut baik datangnya sebuah kebudayaan yang entah dari mana awalnya dan tidak diketahui sampai dimana akan berakhir. Beramai-ramai mereka minum minuman keras, beramai-ramai mereka menghisap sabu, narkotika dan obat-obat terlarang. Entah berapa bungkus mereka habiskan setiap harinya, yang pasti, kurva penggunaan minuman keras, narkotika dan obat-obat terlarang menunjukan peningkatan yang sangat pesat dan terus berkembang.
Bukan hanya itu, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, di satu sisi memudahkan kita semua untuk mengakses hal-hal baru, meraih informasi, menggali pengetahuan dan meperluas wawasan, dan disisi lain memudahkan kita untuk mengakses hal-hal yang pada hakikatnya dahulu dianggap tabu. Kini semua itu bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja, termasuk dalam layar yang kecil mungil seperti dalam Hand phone. Para pengguna internet dapat dengan mudah menikmati situs pornografi yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Dari mulai yang bisa dinikmati dengan gratis, sampai dengan yang harus bayar dengan harga tinggi.
Fenomena ini semua adalah nyata. Perangkat teknologi multimedia mutakhir telah menjadikan sesuatu serba mungkin, menghadirkan apa yang kita cari tanpa membutuhkan banyak ruang dan waktu. Marshall McLuham mengibaratkan dunia yang luas ini sebagai global village dan borderless word. Artinya, Semua batas yang ada didunia ini hilang begitu saja. Hilang sudah batas dunia wilayah Amerika, Indonesia dan Cina. Hilang sudah batas dunia usia anak-anak, remaja dan dewasa. Semuanya diberikan kesempatan untuk mengaksesnya tanpa halangan apapun. Hilangnya batas-batas tersebut, mengakibatkan hancur dan punahnya khazanah budaya lokal, yang pada hakikatnya merupakan ciri khas sebuah bangsa.
Masa remaja merupakan suatu masa transisi dari anak menjadi dewasa, sebuah masa yang sangat menentukan dalam sejarah hidup setiap manusia. Mentalnya diuji dengan berbagai fenomena yang terus menghadangnya, karena generasi muda adalah generasi penerus bangsa yang dituntut mempunyai mental yang tahan banting, dan terus berupaya meningkatkan kualitas dirinya untuk bersaing secara sehat, dengan siapa saja yang telah memproklamirkan dirinya siap bersaing dalam dunia tanpa batas, yang kita kenal dengan istilah globalisasi.
Pemaknaan Globalisasi memang agak rumit, karena sangat kompleks, berkaitan dengan segala aspek kehidupan, meski pada awalnya hanya berhubungan dengan aspek perekonomian saja. Setiap para ahli dibidangnya pun berbeda memaknainya. Misalnya Anthony Giddens penulis buku terkenal yang berjudul Runaway World, How Globalisation is Reshaping Our Life, memaknai globalisasi sebagai intensifikasi hubungan sosial di segenap penjuru dunia yang menghubungkan wilayah-wilayah yang berjauhan dengan metode khusus, sehingga apa yang terjadi pada tingkat lokal dapat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang berlangsung di tempat lain, begitu juga sebaliknya.
Dalam istilah Thomas Friedman, globalisasi yang terjadi sekarang “semakin jauh, semakin cepat, semakin dalam dan semakin murah…”Globalisasi memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk tampil sebagai actor leading. Dengan kekuatannya yang dahsyat, globalisasi menghancurkan dinding-dinding pembatas, yang selama ini membatasi unsur-unsur yang terkait. Meminjam istilah David Held yang mejelaskan bahwa, sedikitnya dengan globalisasi ada dua fenomena yang muncul ke permukaan. Yaitu melonggarnya rantai-rantai yang membatasi aktivitas politik, ekonomi, dan sosial sehingga scoupe semua aktivitas tersebut kini membentang seluas dunia, dan semakin intensnya tingkat interaksi dan hubungan di dalam dan di antara negara-negara serta masyarakat.
Dua orang Profesor dari Harvard University, Robert O. Koehane dan Joseph S. Nye Jr. menjelaskan bahwa Globalisasi yang terjadi sekarang adalah thick globalization, telah menyentuh siapapun dan dimanapun, bisa dilihat dari semakin padatnya jaringan (density of network), semakin cepatnya lembaga-lembaga dunia berhubungan (Institutional velocity) dan munculnya sifat saling ketergantungan diantara mereka.
Effendi Hasan dalam tulisannya Globalisasi dan pengaruhnya terhadap Negara miskin, yang dimuat di www.acehinstitute.org, menyebutkan bahwa lahirnya globalisasi memiliki banyak faktor, diantaranya adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Mitchell dan Tonelson. Lahirnya globalisasi diseluruh dunia adalah akibat tindakan kongres Amerika di bawah pimpinan presiden Reagen yang menjalankan kebijakan Neo-Liberalisme pada tahun 1984 yang bertujuan untuk merubah kebijakan, menghindari kemerosotan ekonomi yang telah menimpa seluruh Negara pada waktu itu. Melalui kebijakan liberalisasi, deregulasi, dan penswastaan yang menyebabkan investor Amerika Serikat lebih banyak berivestasi di luar negeri. Kebijakan Amerika ini diikuti oleh Negara Inggris yang dipimpin oleh Margaret Thatcher. Apa yang dilakukan oleh kedua Negara tersebut menyebabkan terjadinya persaingan secara besar-besaran dalam aspek multinational. Akibatnya gelombang besar globalisasi tak terbendung. Hal ini juga mnyebabkan tercetusnya engine of the growth atau terjadinya perubahan struktural dalam setiap aspek kehidupan diseluruh dunia dalam segala aspeknya, yang berbeda dan tidak pernah dialami oleh umat manusia pada masa-masa sebelumnya.
Kalau memang demikian, globalisasi merupakan sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa. Globalisasi adalah neo-liberalisme dan kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara yang kuat, kaya dan mampu bertahan akan terus hidup (survival of the fites) dan akan mampu mendominasi serta mengendalikan perekonomian dunia. Sebaliknya, negara-negara lemah dan miskinmakin tak berdaya sampai pada akhirnya hancur lebur karena tidak mampu bersaing.
Pada dasarnya, ternyata dominasi yang telah terjadi dan berasal dari globalisasi ini telah mengarungi beberapa fase yang sangat panjang dan berkaitan satu sama lainnya. Mulai dari fase kolonialisme di Eropa yang mendominasi negara-negara lainnya dengan imperialisme, hegemoni, penjajahan dan penindasan. Setelah keadilan dan panji kemerdekaan tertancap diberbagai negara, kolonialisme mulai tidak menampakkan kebengisannya. Tetapi sayang, dominasi masih saja terjadi. Meski dominasi ini tidak menggunakan kontak fisik, dominasi muncul dengan seperangkat ideologi yang disisipkan dalam kepentingan ekonomi, poitik dan budaya. Ya, masa ini dikenal dengan neo-kolonialisme atau fase pembangunan dan masa developmentalisme. Negara-negara yang baru merdeka ini berada dalam kekuasaan satu negara super power yang telah menancapkan ideologinya dengan sangat kejam. Kemudian lahirlah Fase terakhir yang dapat kita saksikan sekarang ini dengan ditandai oleh liberalisasi dalam segala bidang. Berawal dari terbentuknya GATT (General Agreement Trade and Tariff) hingga WTO (World Trade Organization) yang bekerjasama dengan lembaga donor international seperti IMF dan Bank Dunia. Inilah era yang kita kenal dengan globalisasi.
Nah, konsekuensi dari partisipasi menjadi anggota WTO adalah diadopsinya persyaratan-persyaratan liberalisasi perdagangan dan teori-teori ekonomi positivistik ke dalam Undang-Undang. Seperti Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1994 tentang investasi yang mensyaratkan diperbolehkannya kepemilikan saham 100% penanaman modal asing. Undang-undang ini membuka kesempatan kepada perusahaan-perusahaan multinational dengan modal besar untuk menguasai Sumber Daya Usaha sehingga menyebabkan matinya perusahaan dalam negeri karena tidak mampu bersaing.
Globalisasi tidak serta merta memberikan keuntungan bagi suatu negara. Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Carunia Mulya Firdausy, globalisasi ekonomi melalui pengurangan tarif dan subsidi sebesar 30 persen justru merugikan Indonesia hingga US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 17,1 triliun per tahun. (tempointeraktif.com, Selasa, 19 September 2006 ).
Begitulah maksud dan tujuan dari globalisasi, menciptakan sifat ketergantungan dari negara miskin kepada negara-negara kaya. Dengan ketergantungan itu, kebijakan pemerintah khususnya dalam aspek Ekonomi selalu berubah-rubah, demi melayani kepentingan negara kaya. Keadaan Negara menjadi gonjang-ganjing tak menentu. Hal ini membawa dampak negatif bagi seluruh elemen yang ada tanpa terkecuali termasuk kepada generasi muda, bahkan mungkin, generasi muda ini merupakan sasaran utama dari globalisasi. Banyak dari generasi muda yang menerima globalisasi begitu saja tanpa adanya filterisasi terhadap apa yang dia terima, sehingga dia menerima apa saja karena dianggap bahwa arus globalisasi adalah arus yang mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran. Akibatnya dia terjebak kepada suatu hal yang sebenarnya asing dan tidak layak berada dilingkungannya.
Globalisasi dengan segala aspeknya, telah membawa generasi muda kepada nilai-nilai positif yang selalu bisa diambil hikmahnya, tetapi disisi lain dan kebanyakan, globalisasi membawa generasi muda kepada nilai-nilai yang kosong dari spirit, bahkan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kenistaan yang sangat dalam. Generasi muda terpengaruh oleh hal-hal baru yang bersifat mewah, modern dan trendi. Seperti yang telah dipaparkan di awal.
Berkaitan dengan hal ini, memperbaiki akhlak dan moral generasi muda tidaklah gampang, tidak semudah membalikkkan telapak tangan. Apalagi di era globalisasi yang mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat seperti ini. Pertama, orang tua merupakan benteng awal, sebagai orang yang paling dekat dengan anak-anaknya, yang selalu memperhatikan perkembangan setiap anak-anaknya dan melindunginya dari berbagai asupan yang digemarinya dari pengetahuan, budaya dll. Kedua, Intansi Pendidikan merupakan benteng kedua setelah orang tua, diharapkan agar mampu menjalankan perannya dengan baik sebagai wadah pengelolaan Sumber Daya Manusia yang cerdas dan berakhlakul karimah. Ketiga, Pemerintah menjadi benteng ketiga, mempunyai peran yang sangat besar dalam menentukan kebijakan-kebijakan dan perudang-udangan yang berkaitan dengan kesejahteraan dan moralitas bangsanya. Kerusakan yang dialami oleh generasi muda merupakan tanda kehancuran sebuah bangsa. Setiap orang harus menjadi contoh yang baik bagi teman disampingnya. Ini merupakan pekerjaan besar bagi kita semua, setiap elemen bertanggung jawab atas munculnya barisan generasi harapan Agama dan Bangsa yaitu generasi rabbani.
Dalam Agama Islam, mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran, merupakan satu kesempatan mulia yang diberikan kepada setiap orang tanpa terkecuali, tua muda, wanita dan laki-laki. Dari mulai anjuran untuk saling nasehat menasehati diantara teman, sampai aspek Amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan oleh sebuah organisasi atau para pemimpin yang kita kenal dengan istilah Ulil Amri. Yang harus disadari adalah, kewajiban Amar ma’ruf nahi munkar dalam hal ini merupakan tongkat estafet yang pasti sampai kepada kita sebagai generasi muda yang akan terus berganti seiring dengan pergantian zaman. Maka kita adalah generasi rabbani. Generasi rabbani dituntut untuk mampu mengemban amanah ini. Diharapkan agar dapat melestarikan Islam dalam segala sendi kehidupan, tanpa terjebak kedalam penafsiran prinsip keagamaan yang kaku dan stagnan serta tidak terobsesi kepada penafsiran prinsip keagamaan yang bebas tanpa batas dengan mendobrak kaidah-kaidah yang pada hakikatnya tidak perlu diperdebatkan kembali.
Kita lihat bagaimana Islam bisa sampai kepada pelosok dunia, dibawa oleh seorang generasi terbaik sepanjang sejarah yang menyatukan seluruh masyarakat dengan Agama yang berbeda dibawah suatu piagam yang dikenal dengan piagam Madinah, yang mampu mengkonsep suatu sistem negara Islam yang mampu berdiri kokoh, yaitu Nabi Muhammad SAW. Kemudian diteruskan oleh generasi yang ta’at dan memegang teguh prinsip keagamaan dengan penuh keteguhan yaitu para sahabat rasulullah. Kemudian diteruskan kepada generasi selanjutnya yang terus melestarikan Islam diberbagai benua melalui pemerintahan Umayah, ‘Abasiyah, sampai kemudian berakhir pada pemerintahan Utsmaniyah. Ya, mereka semua adalah generasi rabbani.
Generasi rabbani pada zaman sekarang adalah generasi rabbani yang futuristik, generasi muda yang mampu merespon globalisasi dengan cerdas, kritis, progressif, kreatif dan inovatif. Karena memang kalau sudah seperti ini, globalisasi tidak bisa terelakkan lagi. Globalisasi adalah tantangan yang harus dipelajari dan difahamai dengan benar sehingga bisa dilalui dan dimanfa'atkan dengan baik.
Generasi rabbani harus merespon kemajuan Barat beserta globalisasinya dengan cerdas dan kreatif. Merespon kemjaun ilmu pengetahuan Barat dengan belajar penuh semangat. Generasi rabbani adalah tulang punggung dan motor penggerak kemajuan sebuah Negara. Sebagai generasi penerus bangsa yang tangguh, ulet, dituntut untuk selalu memperkaya wawasan dan meningkatkan kualitas dirinya dalam berbagai aspek, baik moral maupun intelektual. Diharapkan agar dapat berpartisipasi aktif dalam membanguan karakter bangsanya yang khas dan dapat meraih cita-cita sebuah bangsa yang aman, tenram, sejahtera dan bermartabat, dengan meraih predikat Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. _Dani Moh. Ramdani.
Selanjutnya....
Labels:
artikel
Langganan:
Postingan (Atom)
