Li Abi wa Ummi

23 Sep 2010
Li abi wa ummi
Dari perantauan kurangkai bait rindu
Kutulis dengan tinta birrul walidain
Kuangan dengan segenap bayang senyum
Kubingkai dengan cucuran air mata
Kusimpan di palung jiwa.

Li abi wa ummi
Secercah cahaya berpendar terangi sembab mataku
Yang basah oleh air mata rindu.
Setitik terang sibakkan gulita batinku
Yang buta nur sebelumnya.

Abi... Umi...
Terperanjat jiwaku
Oleh tuturan murobbi ruhina
Yang seketika mendentumkan batin
menggejolak lelap nurani.
Kerinduan menyeruak
Serta-merta luruhkan tegarku.
Teringat semua jerih payahmu,
doamu, nasihat muliamu...
Dan teringat segala tentangmu.
Entah bagaimana kuungkap sesal
Deras air mata kelukan lidah
Otakku mati suri
Kedua kakiku melumpuh.

Li bi wa ummi...
Hasratku menggebu persembahkan hadiah terindah bagimu.
Ingin sekali kusaksikan jubah kehormatan menghias sosokmu.
Membalut indah pancarkan aura surgawi.
Tiada hal terindah selain senyum dan ridlomu.

Duhai...
Sesalku tiada henti bergelayut sendu.
Mengurai sesak yang menyumbat pori-pori tabahku.
Meniti langkah tegap setelah terseok khilaf.
Serpihan rindu bangkitkan himmah dan azzam kalbu.
Meremugar niat kokohkan puing asaku.
Robbi… Robbi… Ooo, Robbi...
Robbighfirli wa li walidayya
warhamhuma kama robbayani shogiro.



By: A. Munsit
Bumi Lantany,
06 Ramadhan 1431 H
Selanjutnya....

Satu Masjid Pengganti Seribu Gereja di Tanah Haram


Oleh: Agus Supriadi, Lc

Kemarin, sempat mencuat kembali masalah tragedi WTC setelah adanya rencana pembangunan sebuah gedung mewah dua blok dari Ground Zero. Rencananya, gedung tersebut akan dilengkapi dengan fasilitas masjid, tempat olahraga, teater serta lainnya, dan itu akan terbuka untuk semua pengunjung.

Pembangunan dengan nama proyek Cordova House yang memakan dana sekitar $ 100 juta itu tak ayal menimbulkan kontroversi antara pihak yang mendukung dengan yang kontra. Penduduk sekitar lokasi Manhattan serta keluarga korban tragedi 911 cenderung menolak , sementara 28% lainnya yang nota bene kaum muslim amerika serta sebagian kecil non-muslim termasuk didalamnya wali kota tetap mendukung pembangunan tersebut.

Keluar dari masalah pro kontra dan kesepakatan yang memang sudah diambil kedua belah pihak, menurut saya ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan selaku umat muslim yang merelakan diri berjuang di jalan-Nya. Mesjid yang diklaim menjadi bentuk toleransi antar umat muslim dan dan non-muslim di negara adidaya ternyata berpotensi menimbulkan ekses negative yang luar biasa, yaitu menjadi senjata yang digunakan oleh penguasa politik superior Amerika sekaligus Negara Penjaga Seribu Gereja Roma. Dan bukan tidak mungkin akan muncul pendukung kedua kekuatan tersebut nantinya.

Proses didirikanya satu rumah ibadah di sekitar Ground Zero bisa menjadi ancaman didirikanya rumah suci gereja atau sinagoge, dengan dalih saling bertukar prinsip toleransi antar umat beragama. Mesjid di Amerika jadi symbol toleransi agama non-Islam terhadap agama Islam. Sebaliknya, pembangunan gereja atau sinagoge di Mekkah atau Madinah misalkan, menjadi bukti toleransi umat Islam terhadap non-Islam. Dengan begitu, proses meragukan umat Islam atau pun menghancurkan akidah mereka bisa dengan mudah dilakukan. Sebelum hal itu terjadi, sudah selayaknya umat Islam mencari solusi untuk permasalahan tersebut.

Proses legalisasi yang diberikan oleh Presiden Barrack Obama mengenai pembangunan mesjid di Manhattan adalah proses awal menarik simpati ummat muslim seluruh dunia tentang besarnya makna toleransi bagi umat non-muslim terhadap Islam juga sebagai panggung sandiwara bahwa Amerika senantiasa menjunjung tinggi visi negerinya seperti yang dikutip dari pernyataan Presiden Barrack Obama "Ini adalah Amerika dan komitmen kita terhadap kebebasan beragama tidak boleh goyah."

Sikap kehati-hatian terhadap setiap berita serta tindakan orang-orang yang keluar dari batas-batas agama ataupun non-muslim seperti yang disuratkan dalam surat al-Hujurat : 6 adalah hal mutlak yang harus dilaksanakan. karena setelah melalui pengalaman yang telah teruji diberbagai peristiwa sejarah umat Islam ketika berinteraksi dengan para kaum fasiq, banyak kesepakaan atau pernyataan yang telah dibuat akan tetapi berujung pada pengkhianatan dan pembatalan kesepakatan. Pernyataan yang dilontarkan tak lebih dari pemanis bibir belaka.

Aspek lain yang layak menjadi perhatian umat muslim ketika pembangunan mesjid yang berlokasi di sekitar Ground Zero dengan luas 3000 m persegi adalah memperbaiki citra buruk akan tragedi yang tidak pernah dilakukan. Harus membuktikan bahwa Islam adalah symbol of the peace for the world.

Islamophobia yang sampai sekarang terjadi menjadi PR utama bagi saudara kita yang bergerak dalam proyek Cordova House serta kaum muslimin secara universal dimanapun mereka berada. Pada akhirnya, kesatuan umat Islam seluruh dunia menjadi syarat paten eksisnya citra baik Islam yang berfungsi sebagai agama yang memiliki prinsip penebar kebaikan bagi seluruh alam. Wallahu a'lamu bishowab. []
Selanjutnya....

Ramadhan, Tripoli and Me

21 Sep 2010

Oleh: Sidiq Nugroho

Perkenalkan, saya adalah salah satu dari seratus sekian mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Negeri Seribu Penghafal al-Qur' an, - begitu Dr. Aidh al-Qarni menjuluki Libya.

Seribu kisah akan bisa saya ceritakan kepada anak cucu kelak, untuk sekedar mewakili kehidupan 4 tahun disini. Dari senyuman manis para gadis yang langsung menhantam titik sensitif keimanan, hingga kerasnya jalanan yang menuntut pengorbanan materi dan tak jarang, fisik. Tapi, dalam beberapa baris kedepan, barangkali sedikit dari kehidupan Ramadhan ditanah ini akan saya ceritakan.

Saya dengan Civitas Kampus
Akan banyak ditemui beragam kegiatan pada bulan Ramadhan di kampus kami, Kuliyah Dakwah Islamiyah. Dimulai dari agenda-agenda yang digagas oleh persatuan pelajar dari beragam negara yang ada, pihak kampus, ataupun lingkaran-lingkaran kecil yang dirintis oleh individu-individu kreatif. Semua bermuara kepada satu titik; menyemarakkan bulan terbaik ini. Mereka seolah bersepakat kepada hal yang sama; bahwa bulan ini adalah momentum untuk meningkatkan produktifitas. Kapan pun waktunya, apa pun kegiatan positifnya, dan dimanapun dilakukannya. Maka kita akan menemui berbagai komunitas yang bertebaran di taman-taman kampus menjelang adzan maghrib dikumandangkan. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, mereka pun sibuk dengan topik perbincangan yang berbeda-beda pula; bedah buku, belajar muqarrar, kajian lepas, atau sekedar curhat enam, delapan, atau sepuluh mata semata.

Ada juga sekelompok mahasiswa yang memanfaatkan jeda singkat sehabis sholat tarawih hingga waktu sahur tiba dengan menyalurkan hobi olahraganya, entah itu futsal, tenis meja atau yang lain.

Lain pula dengan paket Ramadhan tahunan yang diorganisir oleh pengurus masjid kampus. Dimulai dari shalat tarawih berjama'ah, kultum setelah sholat dzuhur, lomba hafalan Qur' an, sampai I'tikaf dan qiyamullail pada sepuluh hari terakhir. Luar bisa hebatnya!
Yang jelas, jangan sampai kita termasuk kedalam kelompok ini; segelintir dari muslimin yang menghabiskan waktu dengan aktifitas-aktifitas yang kurang mempunyai orientasi jelas. Akhirnya, Ramadhan pun lewat begitu saja di depan mata mereka, tanpa ada upaya memaksimalkan waktu dan potensi yang ada.
 
Saya, KBRI dan Masyarakat Indonesia di Tripoli

Ini lebih mengagumkan lagi. Kita seolah-olah dibawa kepada suatu daerah beribu-ribu kilometer jauh disana; Indonesia. Ya, mahasiswa, KBRI, dan komunitas Indonesia yang berada di Tripoli, melebur menjadi satu, menciptakan suasana Ramadhan ala Indonesia. Dengan mudah kita menemukan pesantren Ramadhan misalnya, sebuah paket kegiatan pengajaran al-qur'an dan disiplin ilmu Islam lainnya kepada putra-putri WNI yang berdomisili di Tripoli khususnya. Begitu juga dengan musholla KBRIyang ramai dengan variasi kegiatannya; kajian pekanan menjelang buka puasa, sholat tarawih berjama'ah, takbiran, hingga sholat ied.

Begitu pula dengan tradisi buka puasa bersama yang momentnta disatukan dengan pesantren Ramadhan. Para putra-putri mereka mendapatkan suplemen ruhiyah, orangtua pun secara emosi sosialnya pun terpupuk karena bisa bersilaturahim dengan WNI lain.
Satu hal yang membuat kita semakin merindu kampung halaman adalah aneka minuman dan makanan khas Indonesia, baik yang ringan ataupun berat. Keberagaman suku dan asal daerah WNI membuat variasi indah di atas meja makanan. Ada yang pedas, manis dan asam. Rasa bhineka, begitu katanya.

Saya dan Penduduk Tripoli
Semua jenis kisah saya temukan disini. Tentang orang-orang Arab yang mempunyai budaya tersendiri dalam menyambut bulan Ramadhan.

Kalau anda mencoba keluar kamar di pagi hari libur, maka jalan yang biasanya begitu padat dengan kendaraan roda empat, akan terlihat seperti jalan tol di Indonesia. Penghuni Tripoli masih terlelap dengan tidurnya hinggu dzuhur menjelang, atau hanya sekedar bermalas-malasan di apartemen mereka. Menginngat waktu malam yang begitu singkat, ditambah sengatan matahari musim panas, membuat siapa saja yang hidup di daerah ini, pada musim ini, membalik pola hidupnya, siang jadi malam dan sebaliknya. Maka tidak aneh kota menjadi hidup lagi ketika memasuki waktu sore. Itu adalah ngabuburit ala Arab.

Oh iya, barangkali anda harus tahu bahwa jiwa entrepreneur para generasi muda Libya menggeliat di buan ini, apalagi ditambah masa liburan sekolah yang panjang. Biasanya, anak-anak kecil menjual mainan yang diperuntukkan untuk usia mereka juga. Sedangkan para pemuda dengan santai menjajakan soft drink atau cemilan. Mantap ya?

Suatu siang saya singgah di sebuah masjid di kawasan Sharee Ashrah untuk mendinginkan badan sekaligus sholat dzhuhur. Tidak seperti hari-hari biasanya, ketika masjid-masjid ditutup setelah jama'ah selesai mendirikan sholat, pada bulan Ramadhan ini, ternyata mereka menambahkan kultum. Seakan mereka ingin menjadikan Ramadhan ini bulan pembinaan dengan merefresh kafa'ah syar'iyyah yang telah mereka miliki sebelumnya.

Budaya saling menjamu, atau mengundang jamuan makan, sangat kental pada saat-saat Ramadhan seperti ini. Barangkali sekali waktu anda perlu menyempatkan diri untuk jalan-jalan di pusat kota sambil sholat maghrib disana. Cari kenalan penduduk sekitar, ajak ngobrol. Saya rasa dia pun tidak akan segan-segan mengajak anda untuk makan malam dirumahnya.

Kalau di Indonesia nge-’tren’ istilah sahur on the road, Libya pun punya buka on the road. Bentuknya adalah ta’jil yang dibagi-bagikan warga untuk mereka-mereka yang saat adzan maghrib dikumandangkan masih berada di jalan. Hamper setiap masjid juga menyediakan minuman atau makanan kecil sebagai ta’jil.

Mungkin itu sedikit fenomena sosial di sekitar kita pada bulan suci ini. Kalau kita perhatikan seksama, maka sesungguhnya Ramadhan bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan transformasi peradaban. Dimulai dari kerja-kerja kecil sosial. Karena ternyata memang momentum Ramadhan sangat efektif untuk merubah watak dan karakter manusia. Yang dulunya temperamental, pada bulan ini justru menjadi seorang penyayang. Tiba-tiba saja muncul muslim-muslim derma yang begitu ringan membelanjakan hartanya. Kepedulian sosial masyarakat meningkat tajam. Itu semua, menurut saya, merupakan modal utama untuk menguatkan salah satu dari tiga unsur perdaban yang disebutkan Malik bin Nabi, sumber daya manusia yang bagus. []
Selanjutnya....