Pada hari Jumat, tanggal 17 Agustus, 63 tahun silam Ir. Soekarno membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sajoeti Melik di jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat. Mulai saat itu, Indonesia resmi menjadi negara yang independen. Perjuangan panjang para pahlawan, yang sekaligus perpaduan antara faktor nasional dan internasional, pada akhirnya ternoda oleh ulah segelintir orang.
Maka, tidak berlebihan apabila geliat respek-responsif rakyat Indonesia terhadap hari nasional begitu terasa setiap tanggal 17 Agustus tiba. Jauh-jauh hari mereka sudah menyiapkan peringatan 17 Agustus dengan penuh antusias dan semangat. Berbagai lomba digelar untuk memeriahkan hari kemerdekaan bangsa. Di Istana presiden memperingati detik-detik Proklamasi (biasanya) dengan penembakan meriam dan sirene, pengibaran Sang Saka Merah Putih, pembacaan naskah Proklamasi, dan masih banyak lagi. Acara berlanjut pada sore harinya, yaitu upacara penurunan Bendera Pusaka.
Di desa-desa upacara/ peringatan hari kemerdekaan tidak kalah meriahnya dengan ”pesta” di istana negara. Peringatan hari kemerdekaan yang mereka laksanakan bisa dikatakan biasa-biasa saja: lomba naik pucang, bulu tangkis, bola voly, balap karung, dll. Namun, seiring perputaran waktu, ”hari suci” bangsa (Indonesia) ternoda oleh tingkah polah anak-anak muda. Betapa tidak, darah syuhada (pejuang-pejuang muslim, pen) yang gugur baik di ujung senjata Belanda maupun Jepang dikotori oleh ulah mereka mengumbar maksiat berkedok Agustus-an dengan mengadakan ”pesta binal.”
Realitas demikian, mulai menjamur beberapa tahun terakhir di kalangan anak muda tatkala hari bahagia tiba. Misalnya, mereka mengadakan lomba band dan/ atau urunan untuk mendatangkan band kacangan. Kemudian, mereka (lawan jenis) joget bersama, ”merayakan hari kemerdekaan.” Tidak jarang ”pesta kemerdekaan” berakhir dengan tonjok-tonjokan dan botol alkohol berserakan. Ironisnya, tidak sedikit anak-anak muda yang menodai darah syuhada ber-KTP Islam.
Peran Islam bagi Kemerdekaan
Peran pejuang Islam mewujudkan negara Indonesia yang merdeka tidak bisa dikatakan sedikit. Begitu juga dengan jumlahnya. Ada Pangeran Diponegoro, Cuk Nyak Dhien, Pattimura, dan masih banyak lagi. Sang proklamator, Ir. Soekarno, dan panitia BPUPKI, K.H. Wahid Hasyim, juga orang Islam. Ada K.H. Abdul Wahab Chasbullah dengan Hizbullahnya. Itu baru yang tercatat dalam lembaran sejarah, peran/ jumlah mereka yang diriwayatkan melalui lisan juga tidak kalah banyaknya. Sebut saja nama Mbah Mahrus, pengasuh Ponpes Lirboyo. Beliau bersama santrinya berangkat ke Surabaya membela tanah warisan nenek moyang, begitu cerita turun-temurun yang saya dengar saat mondok di Lirboyo. Dan masih banyak lagi kiai-kiai lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Setelah merdeka, bukan berarti perjuangan berhenti. Islam terus menjadi penjaga gawang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Diantara bukti nyatanya, ulama legowo menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta. Sebab, jika tujuh kata tersebut dipertahan berakibat fatal bagi kesatuan negara yang baru seumur jagung. Indonesia akan terpecah. Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, demikan maksim Islam klasik (baca: kaidah fikih) merumuskan.
***
Sejarah mencatat, Indonesia bisa merdeka setelah malakukan perjuangan panjang nan melelahkan. Hasil itu terwujud dalam bentuk perpaduan antara faktor nasional dan internasional saat itu. Di mana pada waktu itu, tentara Jepang tidak berdaya melawan pasukan sekutu pascaruntuhnya Nagasaki (9 Agustus 1945) dan Hirosima, dan negeri Sakura menerima ultimatum dari Amerika dan sekutunya.
Setelah mendengar berita itu Syahrir memberitahu penyair Chairul Anwar. Syahrir juga mendesak Soekarno yang baru pulang dari Dalat, Vietnam, menemui Marsel Terauchi, agar segera memprokalamasikan kemerdekaan Indonesia lebih cepat dari waktu yang dijanjikan oleh Jepang-- 24 Agustus. Syahrir berpendapat bahwa hasil pertemuan di Dalat, 12 Agustus, hanya tipu muslihat Jepang.
Agar bisa mewujudkan Indonesia menjadi negara Independen, Syahrir menyiapkan pengikutnya untuk berdemonstrasi dan bahkan, bila perlu, berperang menghadapi bala tentara Jepang, jika mereka menggunakan kekerasan. Ia sudah menyusun teks proklamasi dan dikirimkan ke seluruh Jawa untuk dicetak dan dibagi-bagikan. Akhirnya, usaha keras itu benar-benar terwujud pada hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945 masehi bertepatan 17 Ramadan 1365, atau 17 Agustus tahun Jepang di jalan Pegangsaran Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat.
Akan tetapi, sayang beribu sayang kemerdekaan yang sejak lama dirintis oleh para pejuang kemerdekaan telah ternoda. Ternoda? Ya! Bukan hanya oleh ulah anak-anak ingusan, seperti penulis katakan di awal tulisan ini. Justru noda lebih parah ditorehkan oleh penguasa, khususnya Orde Baru.
Diantara noda yang sulit hilang adalah pengurisan Orde Baru terhadap sebagian orang yang memiliki peran bagi kemerdekaan, khususnya tokoh-tokoh yang backround-nya Islam. Bahkan Masyumi yang nota bene-nya musuh utama (dan sudah tentu punya andil besar mengebiri) PKI pun singkirkan. Padahal Masyumi berada di garda depan tidak hanya saat melawan PKI, pun saat menghadapi Bung Karno. Tokohnya yang paling moderat sekali pun, Mohamad Roem, sama sekali tidak diberi akses jalur politiknya (Tempo, 14 Desember 1998). Noda lain yang sampai sekarang masih belum hilang adalah korupsi yang mengakar rumput dan krisis multi dimensi. Itu baru noda satu orde, belum noda peninggalan pemerintahan setelahnya.
”Kalau datang tanggal 17 Agustus, saya merasa sedih dan prihatin -- campur marah -- mengingat banyaknya orang yang telah ikut berjuang demi tegaknya Republik Indonesia, tetapi sekarang disingkirkan, atau dibuang, atau digencet, atau didiskriminasi,” catat A. Umar Said, dalam Renungan tentang
Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2005.
Kasus Said hanya sebagian kecil. Masih banyak lagi ”A. Umar Said” yang lain. Andil Said bagi kemerdekan tidak bisa dibilang sedikit. Ia ikut berperang dalam Pertempuran Surabaya, Said juga ikut bergerilya bersama TRIP melawan Belanda. Kemudian, Said menggantungkan hidupnya pada dunia jurnalis, setelah ia menjadi wartawan Sukarno-is dibawah pimpinan Soekarno.
Saat menjadi pemimpin redaksi Harian Penerangan, Umar hampir kehilangan nyawa. Waktu itu, terjadi pemberontakan PRRI di Sumatra Barat pada tahun 1957--1958, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh Masyumi dan PSI dengan mendapat bantuan dari Amerika Serikat.
Beberapa waktu kemudian, Said hijrah ke Jakarta dan menjabat sebagai pimpinan redaksi Harian Ekonomi Nasional, merangkap sebagai bendahara PWI Pusat dan Bendahara Persatuan Wartawan Asia-Afrika dan bendahara Konferensi Internasional Anti-Pangkalan Militer Asing. Mulai saat itulah kegiatannya mendukung berbagai politik Bung Karno semakin meningkat. Peristiwa G30S merubah jalan hidup Said secara total. Sejak meletusnya peristiwa itu, Umar Said terlunta-lunta di negeri orang. Pertama kali ia bermukim di Tiongkok selama tujuh tahun, dan mulai tahun 1974 Said hidup di Prancis sebagai political refugee.
Itulah sekelumit realitas kemerdekaan yang ternoda. Menengok petikan di atas kita merenung: benarkah Indonesia sudah merdeka? Jawaban kita: belum!!! Sampai sekarang Indonesia belum merdeka! Kita masih dijajah penguasa korup yang suka nepotisme dan koncoisme (baca: KKN). Memang, 63 tiga tahun silam Bung Karno sudah membaca naskah Proklamasi yang diketik Sajoeti Melik, dan dia tanda tangani bersama Bung Hatta, bertanda Indonesia resmi menjadi negara independen. Akan tetapi, budaya, ekonomi, hutan, dan laut (untuk menyebutkan beberapa contoh) kita masih belum merdeka.
Penjajahan di laut bukan hanya berupa pengerukan ikan oleh kapal-kapal asing, pasir kita pun diambil singapura sehingga wilayah negeri Singa itu menjorok ke Riau. Sebaliknya, Indonesia terkena ”abrasi” karena pasirnya ”hijrah” ke negeri jiran. Ironisnya, (seakan) pemerintah Indonesia tidak tahu dengan semua pencurian pasir skala besar itu. Sebaliknya, dari Singapura jangankan maling pasir, pencuri ayam pun bisa diketahui dari sana. Sebab, operator satelit negeri itu 24 jam selalu memantau kita.
Menutup tulisan ini, bertepatan dengan event 17 Agustus, izinkan saya untuk meneriakkan, ”Kita belum merdeka, kawan!!!”
Tripoli, 06 Agustus 2008
A. Muntaha Afandie Mahasiswa Ad Dakwah tahun satu. Silahkan tinggalkan pesan dan kunjungi blog penulis: www.jokotingkir.co.nr atau www.urlcantik.com/3307.
Selanjutnya....
Mengembalikan Makna Kemerdekaan
19 Agu 2008
Posted by kkmi
Tepat pada tanggal 17 Agustus tahun ini bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-63, suatu bilangan yang mencerminkan bahwa bangsa ini telah berumur enam puluh tiga tahun. Kalau kita cermati umur negara-negara terdahulu --seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam Mukadimah-nya—kebanyakan tidak terlepas dari tiga ajyal (tahapan sejarah) untuk sampai kepada peradabannya sendiri, yang mana masing-masing tahapan tersebut berlangsung selama 40 tahun.
Dan --menurutnya-- pada tahapan kedualah biasanya suatu bangsa sudah menemukan peradaban karena pada tahapan selanjutnya merupakan tahapan kemunduran. Dengan melihat gambaran ini, sepatutnyalah bangsa Indonesia sudah menemukan identitasnya dan fitrah kebangsaannya, yaitu sebagai bangsa yang benar-benar merdeka dan berdaulat, mampu mendongkrak dirinya untuk lahir menjadi bangsa yang besar dan beradab, kuat dan dihargai, dan yang mampu --sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945-- ”Membentuk pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.”
Namun, sayang seribu sayang, cita-cita dan keinginan kearah itu hanya sekian persen yang terealisasi --kalau kita tidak ingin mengatakan: ”tidak sama sekali.” Realitas tersebut bisa kita simak dari kondisi bangsa ini yang senantiasa berada dalam gunjingan dan cemoohan bangsa-bangsa lain.
Bangsa-bangsa yang maju menilai Indonesia sebagai bangsa yang rendah dan tidak punya harga diri, dan menyeret ke dalam ketidakberdayaan. Tentunya hal ini ada korelasinya dengan realitas kebangsaan kita yang masih belum bergeser dari krisis multidimensi yang mendera bangsa ini ke arah yang mandiri; mulai dari krisis yang mendera kelompok besar elit politik dengan KKN-nya dan ketergantungannya kepada negara-negara lain.
Lalu, sebagian besar para intelektual muslimnya yang tidak pilih-pilih dalam mengambil pemikiran orientalis Barat (ghazwu al-fikri) sehingga penyakit Sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) melanda otak-otak generasi bangsa ini. Begitu juga kebanyakan para generasi mudanya gemar mengkonsumsi 3F (food, fashion, and fun) negara asing dan gemar dengan free sex, narkoba, ditambah lagi dengan gaya hidup sebagian masyarakatnya yang hedonis dan materialistis serta individualis semata. Akhirnya, bukannya kesejahteraan dan pencerdasan yang menyebar di masyarakat Indonesia. Akan tetapi, sebaliknya.
Realitas ini menunjukan bahwa bangsa ini belum menemukan hakikat kemerdekaannya; makna hakiki dari ”kemerdekaan” itu sendiri. Artinya, perubahan hakiki atas dasar makna kemerdekaan belum diraih secara nyata dalam kehidupan berbangsa. Sedangkan kalau di lihat dari makna bahasanya saja ”merdeka” --seperti tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia-- artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa.
Maka dari itu, melalui momen peringatan hari kemerdekaan kali ini, mari kita kembalikan makna kemerdekaan ini kepada proporsinya, yaitu dengan menelaah kembali inti dari pembukaan UUD 45, khususnya penggalan paragraf yang berbunyi: ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Penggalan paragraf ini membawa kita kepada dua pokok poin yang harus ditempuh dalam mewujudkan kemerdekaan, dengan melalui jalur dua arah yang mempunyai relevansi satu sama lainnya. Dua poin tersebut adalah: (1) atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, (2) dorongan dan keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas. Sedangkan dua jalur tersebut adalah: (1) human-historis, yaitu melalui pendekatan sejarah dengan mengkaji ruh atau semangat generasi terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan, (2) setelah itu baru melewati jalur masa sekarang, yaitu penerapan, penanaman dan aktualisasi kedua pokok poin tadi pada masa sekarang.
Maksudnya, melalui penggalan paragraf ini kita sebagai bangsa Indonesia dituntut agar mengkaji dan menelaah sejarah para pejuang dahulu (founding father) bangsa ini, yang telah berjuang melawan penjajahan, sebagai realisasi dan aksi dari pemahaman mereka atas konsep ketuhanan; konsep yang sangat mendasar dalam ajaran Islam untuk manusia. Yaitu kemerdekaan, pembebasan diri dari meng-ilah-kan sesama makhluk dan untuk semata-mata hanya meng-ilah-kan Allah Swt (ilahiyyah), dan mengabdikan diri, tunduk, patuh, sujud (menjajahkan diri) hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ”menjajahkan diri” kepada selain-Nya.
Apalagi sesama manusia (wahdaniyyah), yang berarti juga, pembebasan diri dari eksploitasi sesama manusia, pembebasan dari segala bentuk penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain, baik itu dalam bentuk fisik maupun dalam bentuk ghazwul fikri (pemikiran) ataupun yang lainnya seperti ekonomi, politik, budaya, dan intervensi kepentingan urusan dalam negeri, dll (Rubbubiyah).
Inilah tiga asas konsep ketuhanan dalam islam: ilahiyyah, wahdaniyyah, dan rubbubiyyah, yang terdeklarasikan dalam setiap saat dan setiap waktu dari seorang pribadi muslim dalam kalimat ”Lailaha illa al-Allah, wa Allahu akbar” (tiada Tuhan selain Allah, Dia-lah Yang Maha Besar).
Dalam hal ini, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Fatahillah, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan sederet para pahlawan lainnya telah berjuang melawan penjajahan-- dengan semboyannya, ”’isy kariiman ao mut syahiidan” (hidup mulia/ merdeka atau mati syahid)-- sebagai manifestasi dari konsep ketuhanan tersebut. Yaitu, kemerdekaan yang hakiki, dan dengan kinginannya yang menggebu-gebu untuk mewujudkan kemerdekaan. Inilah makna dari dua pokok poin tersebut diatas.
Dan realitas inilah yang kemudian para pencetus UUD ’45 terilhami, bahkan mengharuskan mereka, untuk menuangkan penggalan paragraf tersebut di dalamnya.
Kemudian, pada masa awal kemerdekaan, Bung Tomo pemimpin para pejuang arek-arek Suroboyo, telah membuktikan kedua pokok ini dengan mengambil ibroh dari para pendahulunya. Maka, beliau tidak henti-hentinya menyulut semangat juang arek-arek Surabaya, lebih-lebih para pemuda, dengan gelegar takbir nya ”Allahu akbar” yang mampu menggetarkan dan membakar semangat mereka untuk saling bahu-membahu menumpas penjajah: ”… Semboyan kita tetap! Merdeka atau Mati! Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh kepada kita. Sebab, Allah selalu berpihak kepada yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Merdeka.”
Akhirnya, Surabaya berhasil direbut oleh mereka pada tanggal 10 Nopember 1945, walaupun tidak sedikit dari mereka yang gugur dalam pertempuran sebagai kusuma bangsa. Dan pemerintah kemudian menetapkan tanggal 10 Nopember sebagai ”Hari Pahlawan.”
Maka dari itu, kita sebagai generasi penerus bangsa ini, sudah saatnya mempraktikan dua pokok poin tersebut. Yang pertama ialah mengakui hanya Allah Swt yang Maha Kuasa atas segala sesuatu (berkeyakinan yang kuat akan konsep ketuhanan) dan yang bisa memberkati kemerdekaan suatu bangsa. Yang kedua adalah tertanamnya cita-cita dan keinginan yang tinggi untuk menjadi bangsa yang merdeka (merelisasikan konsep ketuhanan tersebut), dalam kebangsaan kita, dengan bercermin kepada para leluhur kita (menelaah human historis).
Sehingga, kemerdekaan yang dulu diraih; dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di rengkas dengklok oleh Bung Karno dan Bung Hatta, tidak hilang begitu saja ditelan masa. Hilang akibat ketidak pahaman kita akan makna ”kemerdekaan” yang sebenarnya, yaitu kemerdekaan yang tidak hanya fisik semata, akan tetapi kemerdekaan dari berbagai bentuk penghambaan dan penjajahan diri dari selain Allah Swt, sebagai bentuk implementasi dari konsep ketuhanan, yang berarti pengakuan bersama bahwa hanya Allah yang mengatur segala urusan, dan pengakuan bahwa semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama dihadapan sang pengatur, yang berlanjut dengan pengakuan bahwa tidak ada penjajahan antar sesama, inilah ”aklamasi hakiki” yang harus dipatuhi dan dijalani oleh sesama manusia.
Akhirnya, sebagai motivasi kita untuk memulai bergerak adalah firman Allah Swt dalam surat Al Ra’d ayat 11: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa (dari susah menjadi bahagia, dari terjajah menjadi merdeka, atau sebaliknya) sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka (sesuai dengan keadaan dan usaha yang mereka jalani).”
Wallahu a’lam bi as-shawab
Oleh: Nabil Abdurrahman
Selanjutnya....
Dan --menurutnya-- pada tahapan kedualah biasanya suatu bangsa sudah menemukan peradaban karena pada tahapan selanjutnya merupakan tahapan kemunduran. Dengan melihat gambaran ini, sepatutnyalah bangsa Indonesia sudah menemukan identitasnya dan fitrah kebangsaannya, yaitu sebagai bangsa yang benar-benar merdeka dan berdaulat, mampu mendongkrak dirinya untuk lahir menjadi bangsa yang besar dan beradab, kuat dan dihargai, dan yang mampu --sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945-- ”Membentuk pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.”
Namun, sayang seribu sayang, cita-cita dan keinginan kearah itu hanya sekian persen yang terealisasi --kalau kita tidak ingin mengatakan: ”tidak sama sekali.” Realitas tersebut bisa kita simak dari kondisi bangsa ini yang senantiasa berada dalam gunjingan dan cemoohan bangsa-bangsa lain.
Bangsa-bangsa yang maju menilai Indonesia sebagai bangsa yang rendah dan tidak punya harga diri, dan menyeret ke dalam ketidakberdayaan. Tentunya hal ini ada korelasinya dengan realitas kebangsaan kita yang masih belum bergeser dari krisis multidimensi yang mendera bangsa ini ke arah yang mandiri; mulai dari krisis yang mendera kelompok besar elit politik dengan KKN-nya dan ketergantungannya kepada negara-negara lain.
Lalu, sebagian besar para intelektual muslimnya yang tidak pilih-pilih dalam mengambil pemikiran orientalis Barat (ghazwu al-fikri) sehingga penyakit Sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) melanda otak-otak generasi bangsa ini. Begitu juga kebanyakan para generasi mudanya gemar mengkonsumsi 3F (food, fashion, and fun) negara asing dan gemar dengan free sex, narkoba, ditambah lagi dengan gaya hidup sebagian masyarakatnya yang hedonis dan materialistis serta individualis semata. Akhirnya, bukannya kesejahteraan dan pencerdasan yang menyebar di masyarakat Indonesia. Akan tetapi, sebaliknya.
Realitas ini menunjukan bahwa bangsa ini belum menemukan hakikat kemerdekaannya; makna hakiki dari ”kemerdekaan” itu sendiri. Artinya, perubahan hakiki atas dasar makna kemerdekaan belum diraih secara nyata dalam kehidupan berbangsa. Sedangkan kalau di lihat dari makna bahasanya saja ”merdeka” --seperti tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia-- artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa.
Maka dari itu, melalui momen peringatan hari kemerdekaan kali ini, mari kita kembalikan makna kemerdekaan ini kepada proporsinya, yaitu dengan menelaah kembali inti dari pembukaan UUD 45, khususnya penggalan paragraf yang berbunyi: ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Penggalan paragraf ini membawa kita kepada dua pokok poin yang harus ditempuh dalam mewujudkan kemerdekaan, dengan melalui jalur dua arah yang mempunyai relevansi satu sama lainnya. Dua poin tersebut adalah: (1) atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, (2) dorongan dan keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas. Sedangkan dua jalur tersebut adalah: (1) human-historis, yaitu melalui pendekatan sejarah dengan mengkaji ruh atau semangat generasi terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan, (2) setelah itu baru melewati jalur masa sekarang, yaitu penerapan, penanaman dan aktualisasi kedua pokok poin tadi pada masa sekarang.
Maksudnya, melalui penggalan paragraf ini kita sebagai bangsa Indonesia dituntut agar mengkaji dan menelaah sejarah para pejuang dahulu (founding father) bangsa ini, yang telah berjuang melawan penjajahan, sebagai realisasi dan aksi dari pemahaman mereka atas konsep ketuhanan; konsep yang sangat mendasar dalam ajaran Islam untuk manusia. Yaitu kemerdekaan, pembebasan diri dari meng-ilah-kan sesama makhluk dan untuk semata-mata hanya meng-ilah-kan Allah Swt (ilahiyyah), dan mengabdikan diri, tunduk, patuh, sujud (menjajahkan diri) hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ”menjajahkan diri” kepada selain-Nya.
Apalagi sesama manusia (wahdaniyyah), yang berarti juga, pembebasan diri dari eksploitasi sesama manusia, pembebasan dari segala bentuk penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain, baik itu dalam bentuk fisik maupun dalam bentuk ghazwul fikri (pemikiran) ataupun yang lainnya seperti ekonomi, politik, budaya, dan intervensi kepentingan urusan dalam negeri, dll (Rubbubiyah).
Inilah tiga asas konsep ketuhanan dalam islam: ilahiyyah, wahdaniyyah, dan rubbubiyyah, yang terdeklarasikan dalam setiap saat dan setiap waktu dari seorang pribadi muslim dalam kalimat ”Lailaha illa al-Allah, wa Allahu akbar” (tiada Tuhan selain Allah, Dia-lah Yang Maha Besar).
Dalam hal ini, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Fatahillah, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan sederet para pahlawan lainnya telah berjuang melawan penjajahan-- dengan semboyannya, ”’isy kariiman ao mut syahiidan” (hidup mulia/ merdeka atau mati syahid)-- sebagai manifestasi dari konsep ketuhanan tersebut. Yaitu, kemerdekaan yang hakiki, dan dengan kinginannya yang menggebu-gebu untuk mewujudkan kemerdekaan. Inilah makna dari dua pokok poin tersebut diatas.
Dan realitas inilah yang kemudian para pencetus UUD ’45 terilhami, bahkan mengharuskan mereka, untuk menuangkan penggalan paragraf tersebut di dalamnya.
Kemudian, pada masa awal kemerdekaan, Bung Tomo pemimpin para pejuang arek-arek Suroboyo, telah membuktikan kedua pokok ini dengan mengambil ibroh dari para pendahulunya. Maka, beliau tidak henti-hentinya menyulut semangat juang arek-arek Surabaya, lebih-lebih para pemuda, dengan gelegar takbir nya ”Allahu akbar” yang mampu menggetarkan dan membakar semangat mereka untuk saling bahu-membahu menumpas penjajah: ”… Semboyan kita tetap! Merdeka atau Mati! Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh kepada kita. Sebab, Allah selalu berpihak kepada yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Merdeka.”
Akhirnya, Surabaya berhasil direbut oleh mereka pada tanggal 10 Nopember 1945, walaupun tidak sedikit dari mereka yang gugur dalam pertempuran sebagai kusuma bangsa. Dan pemerintah kemudian menetapkan tanggal 10 Nopember sebagai ”Hari Pahlawan.”
Maka dari itu, kita sebagai generasi penerus bangsa ini, sudah saatnya mempraktikan dua pokok poin tersebut. Yang pertama ialah mengakui hanya Allah Swt yang Maha Kuasa atas segala sesuatu (berkeyakinan yang kuat akan konsep ketuhanan) dan yang bisa memberkati kemerdekaan suatu bangsa. Yang kedua adalah tertanamnya cita-cita dan keinginan yang tinggi untuk menjadi bangsa yang merdeka (merelisasikan konsep ketuhanan tersebut), dalam kebangsaan kita, dengan bercermin kepada para leluhur kita (menelaah human historis).
Sehingga, kemerdekaan yang dulu diraih; dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di rengkas dengklok oleh Bung Karno dan Bung Hatta, tidak hilang begitu saja ditelan masa. Hilang akibat ketidak pahaman kita akan makna ”kemerdekaan” yang sebenarnya, yaitu kemerdekaan yang tidak hanya fisik semata, akan tetapi kemerdekaan dari berbagai bentuk penghambaan dan penjajahan diri dari selain Allah Swt, sebagai bentuk implementasi dari konsep ketuhanan, yang berarti pengakuan bersama bahwa hanya Allah yang mengatur segala urusan, dan pengakuan bahwa semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama dihadapan sang pengatur, yang berlanjut dengan pengakuan bahwa tidak ada penjajahan antar sesama, inilah ”aklamasi hakiki” yang harus dipatuhi dan dijalani oleh sesama manusia.
Akhirnya, sebagai motivasi kita untuk memulai bergerak adalah firman Allah Swt dalam surat Al Ra’d ayat 11: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa (dari susah menjadi bahagia, dari terjajah menjadi merdeka, atau sebaliknya) sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka (sesuai dengan keadaan dan usaha yang mereka jalani).”
Wallahu a’lam bi as-shawab
Oleh: Nabil Abdurrahman
Selanjutnya....
Labels:
artikel
Mistikus Hidup
17 Agu 2008
Posted by kkmi
Oleh: Zenta
Lemah lunglai hatiku tercabik sesuatu: panorama yang indah tak dapat lagi aku rasakan, manisnya madu dan pahitnya empedu tidak bisa aku bedakan, gelap maupunn terang tidak dapat aku mengerti. Masih hidupkah atau sudah mati? Aku pun tak tahu. Dimanakah aku berpijak dan bagaimanakah keadaan diriku sungguh aku pun tidak dapat menangkap keberadaan ku sendiri
Jangankan tanggal dan bulan kamu tanyakan kepada ku, bahkan tahun berapakah sekarang, jika kamu tanyakan kepadaku, tidak akan bisa aku jawab. Banyak orang berkata bahwa purnama itu indah, bahwa bunga mawar itu harum, bahwa udara pagi itu segar, bagiku semuanya itu tidak ada artinya sama sekali, semuanya terlihat kelam dan gelap gulita.
Pesona keindahan yang ada di pelupuk mata adalah sesuatu yang fana. Kanan, kiri, depan, dan belakang hanyalah sebuah dimensi hayalan. Seolah-olah dimensi itu adalah sesuatu yang nyata namun sebenarnya adalah kefanaan. Ya, asal dimensi adalah kefanaan.
Kehampaan yang pasrah ketika malam menjelang. Kata orang jika malam datang kamu pasti akan dapat melihat senyum bintang maupun senyum purnama, namun mana? Malam ini tak ada bintang dan tak ada purnama, yang ada hanyalah kegelapan yang menyelimuti diriku.
Sesuatu yang hangat akan membuat kenyamanan, kata orang. Namun, aku tidak butuh kehangatan, yang aku butuhkan adalah sesuatu yang dingin, dingin, dan dingin. Langit yang biru muncul sebagai langit yang cerah tanpa awan, kata orang. Namun, apakah orang tidak memperhatikan bahwa langit yang biru tidak akan terlihat jika orang tidak menengadah ke atas.
Gemercik air yang suci berlari bagaikan kuda terlepas dari pelana, menjauh dan terus menjauh, dalam dan semakin dalam menembus-meresap ke tanah bagai air. Dan menelusup ke hutan semakin menghilang bagai kuda. Butuh dimensi bagi air dan kuda? Ya… keduanya butuh dimensi. Namun, apakah dimensi mereka sama dengan dimensi manusia?
Ah… aku jadi malu sendiri ketika pertanyaan itu muncul dari diriku karena aku adalah manusia. Seharusnya akulah yang dapat menjawab pertanyaan itu. Tidak layak bagiku untuk bertanya kepada pohon yang membisu, tidak layak bagiku untuk bertanya pada batu yang membuta.
Kedudukanmu dan kedudukanku, samakah? Kamu terlihat berada di atas sedangkan aku terlihat berada di bawah kamu, seolah-olah kamu mempunyai totalitas, loyalitas, dan dedikasi yang lebih tinggi dari aku, aku pun mengerti bahwa diri ini adalah rakyat jelata. Sunguh beda antara kamu dan aku. Kamu dengan mudah meraup angka-angka dalam bentuk kertas tanpa harus mengeluarkan keringat. Sedangkan aku harus berjuang sampai banjir keringat, itu pun yang aku dapat hanyalah angka yang lebih kecil. Entah berapa puluh kali lipat kecilnya dari angka yang kamu dapat.
Namun, inilah kebanggaan yang aku dapatkan, bukan nilai angka tersebut. Tetapi, keringat yang membanjiri badanku yang aku banggakan, nilai-nilai yang aku dapatkan juga bersih, suci, dan harum. Sesekali aku masih bisa memberi kepada saudara-audaraku walaupun jumlahnya tidak seberapa dengan jumlah sumbangan yang engkau berikan. Namun, apakah kamu tahu bahwa sumbanganmu itu tidaklah berarti karena nilai yang kamu dapatkan adalah nilai kotor, nilai yang berlumuran darah manusia.
Bak air, nilai yang aku berikan adalah air yang hanya satu gelas namun jernih dari mata air yang suci, sedangkan nilai yang engkau berikan bagaikan air yang berada di sungai namun air tersebut ternodai dengan aliran darah manusia. Sekarang aku bertanya kepada dirimu, manakah yang lebih bermanfaat air yang aku berikan atau air yang kamu berikan?
Mimpi kita pun berbeda, kamu ingin bermimpi untuk membeli pulau bahkan kamu hendak membeli bumi dan seisinya dengan nominal kotor mu, kamu tidak ingat dan mungkin tidak tahu bahwa apa yang kamu inginkan itu tidak akan bisa terwujud. Bahkan kamu akan kecewa ketika menyadari bahwa tanganmu semakin melemah, rambutmu semakin memutih, suaramu semakin mengecil.
Sekarang aku ingin mengutarakan mimpiku, dengar dan perhatikan, aku akan membeli surga dengan kejujuranku, dan aku tidak akan kecewa karena aku yakin bahwa aku akan mendapatkannya dengan kejujuranku. Ketika tenaga ini semakin melemah, rambut ini semakin memutih, aku semakin senang karena aku hampir mendapatkan surga yang aku pesan.
Kamu pernah mengatakan bahwa aku ini adalah orang yang dekil tidak tahu pergaulan, miskin, dan tidak berpengetahuan. Kamu pernah bertanya kepadaku, bahagiakah kamu hidup seperti ini? Akan aku jawab pertanyaanmu dengan pertanyaan, apakah kamu bangga berpakaian bagus namun dikotori dengan darah? Apakah kamu tetap makan lahap sedangkan makanan yang kamu makan adalah bangkai-bangkai manusia?
Aku bangga hidup sebagai orang yang dekil menurut kamu, aku bangga hidup sebagai seorang yang miskin menurut kamu, dan aku bangga menjadi orang yang tidak berpengetahuan menurut kamu. Jelas aku tidak tahu jika kamu tanya kepadaku, manakah alkohol berkualitas yang mempunyai rasa enak, atau manakah pakaian yang cocok untuk digunakan dalam pesta, sedangkan pakaian tersebut adalah pakaian yang melihatkan bagian tubuh yang seharusnya tertutup. Jika anak perempuan maupun istri kamu memakainya, itukah yang kamu banggakan?
Kamu bangga dengan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas kamu banggakan. Kamu bangga dapat menyayat-nyayat tubuh orang lain lalu mengambil pakainnya, meminum darahnya, dan memakan dagingnya. Kamu bisa tertawa ketika orang lain menangis. Itu kan yang kamu sebut dengan kebahagiaan? Itu kan yang kamu sebut dengan hidup nyaman?
Itulah sebenarnya yang menjadikan hatiku semakin tercabik-cabik dengan kehadiranmu, bukan tercabik-cabik karena aku tidak bisa sepertimu. Namun, hati ini tercabik karena ulahmu yang telah melukai fakir miskin, aku tidak bisa menikmati keindahan malam purnama karena mataku tertutup, tertutup karena aku tidak bisa seperti mu? Bukan. Mataku tertutup dengan darah-darah manusia yang kamu peras.
Aku tidak tahu dimanakah aku berpijak, bahkan tahun berapa. Jangankan tanggal dan hari pun aku tak tahu. Bukan karena aku hilang ingatan ataupun aku sengsara hidup sebagai orang miskin, namun aku bingung sekarang aku hidup di zaman jahiliyah atau zaman modern? Bukankah risalah nabi telah sampai tapi kenapa masih ada orang yang mewarisi kejahiliyaan Abu jahal sehingga aku pun dibingungkan dengan masalah itu: hidup di zaman jahiliyah yang modern ataukah hidup di zaman modern yang jahiliyah.
Menurut kamu kehangatan adalah suatu kenikmatan. Berbeda denganku, kehangatan adalah suatu penyakit sehingga aku menginginkan sesuatu yang dingin, kenapa? Kehangatan yang kamu dapat adalah kehangatan dengan cara merebut selimut orang lain, bahkan kamu tidak segan-segan membunuh demi mendapatkan selimut maupun pakaian mereka.
Aku tidak ingin sama sepertimu karena aku dan kamu sekarang berada di bumi yang sama sehingga aku memilih sesuatu yang dingin dari pada aku mendapatkan selimut kehangatan dari hasil merampas dan membunuh. Sesuatu yang tolol, bukan? Itu menurut kamu karena pikiran kamu sudah ternodai, kebiasan kamu memakan bangkai telah membuat otak mu terletak di dengkul.
Silahkan kamu telusuri jalanmu itu. Namun, suatu saat aku akan menghentikan jalanmu karena jalan yang kamu tempuh adalah jalan sesat dan menyesatkan. Saat ini kita masih bisa berkumpul namun lihatlah beberapa tahun yang akan datang jalurmu akan aku rubah demi membahagiakan rakyat, janjiku tidak akan terabaikkan. Ingat-ingatlah kalau kamu tidak merubah jalanmu suatu saat tangan ini yang akan mengubahmu.
Tidak usah kamu berbangga diri dengan harta yang kamu miliki karena suatu saat harta tersebut tidak akan kamu bawa setelah kamu mati, kacuali harta itu halal dan kamu menafkahkannya kejalan yang halal. Janganlah kamu menghina fakir miskin karena bisa jadi derajat mereka lebih tinggi di sisi-Nya. Rasio tidak selamanya bisa dipakai karena di samping itu ada sesuatu yang tidak bisa diterima dengan rasio ataupun nurani, namun harus dilaksanakan, yaitu syariat yang datang dari Tuhan.
Hidup hanyalah sebagai jembatan menuju akhirat nanti. Renungkan sejenak, berapakah usia kamu sekarang? Kapan kamu pertama kali masuk sekolah taman kanak-kanak, lalu kejenjang sekolah dasar, dan tidak terasa akhirnya kamu tamat dari perkuliahan. Pasti terasa seperti baru kemarin, begitulah kehidupan. Tanpa dirasa tiba-tiba ajal sudah di depan mata.
Berbuat baik sebelum terlambat itulah kunci terakhir. Berbuat baik tidaklah perlu di tunda-tunda karena ajal selalu mengintai sewaktu saat bagaikan telur di atas tanduk. Jadi, masa depan adalah apa yang kita kerjakan pada saat ini. Singkatnya kehidupan di akhirat nanti ada kaitannya dengan kehidupan yang kita kerjakan saat ini.
Selanjutnya....
Lemah lunglai hatiku tercabik sesuatu: panorama yang indah tak dapat lagi aku rasakan, manisnya madu dan pahitnya empedu tidak bisa aku bedakan, gelap maupunn terang tidak dapat aku mengerti. Masih hidupkah atau sudah mati? Aku pun tak tahu. Dimanakah aku berpijak dan bagaimanakah keadaan diriku sungguh aku pun tidak dapat menangkap keberadaan ku sendiri
Jangankan tanggal dan bulan kamu tanyakan kepada ku, bahkan tahun berapakah sekarang, jika kamu tanyakan kepadaku, tidak akan bisa aku jawab. Banyak orang berkata bahwa purnama itu indah, bahwa bunga mawar itu harum, bahwa udara pagi itu segar, bagiku semuanya itu tidak ada artinya sama sekali, semuanya terlihat kelam dan gelap gulita.
Pesona keindahan yang ada di pelupuk mata adalah sesuatu yang fana. Kanan, kiri, depan, dan belakang hanyalah sebuah dimensi hayalan. Seolah-olah dimensi itu adalah sesuatu yang nyata namun sebenarnya adalah kefanaan. Ya, asal dimensi adalah kefanaan.
Kehampaan yang pasrah ketika malam menjelang. Kata orang jika malam datang kamu pasti akan dapat melihat senyum bintang maupun senyum purnama, namun mana? Malam ini tak ada bintang dan tak ada purnama, yang ada hanyalah kegelapan yang menyelimuti diriku.
Sesuatu yang hangat akan membuat kenyamanan, kata orang. Namun, aku tidak butuh kehangatan, yang aku butuhkan adalah sesuatu yang dingin, dingin, dan dingin. Langit yang biru muncul sebagai langit yang cerah tanpa awan, kata orang. Namun, apakah orang tidak memperhatikan bahwa langit yang biru tidak akan terlihat jika orang tidak menengadah ke atas.
Gemercik air yang suci berlari bagaikan kuda terlepas dari pelana, menjauh dan terus menjauh, dalam dan semakin dalam menembus-meresap ke tanah bagai air. Dan menelusup ke hutan semakin menghilang bagai kuda. Butuh dimensi bagi air dan kuda? Ya… keduanya butuh dimensi. Namun, apakah dimensi mereka sama dengan dimensi manusia?
Ah… aku jadi malu sendiri ketika pertanyaan itu muncul dari diriku karena aku adalah manusia. Seharusnya akulah yang dapat menjawab pertanyaan itu. Tidak layak bagiku untuk bertanya kepada pohon yang membisu, tidak layak bagiku untuk bertanya pada batu yang membuta.
Kedudukanmu dan kedudukanku, samakah? Kamu terlihat berada di atas sedangkan aku terlihat berada di bawah kamu, seolah-olah kamu mempunyai totalitas, loyalitas, dan dedikasi yang lebih tinggi dari aku, aku pun mengerti bahwa diri ini adalah rakyat jelata. Sunguh beda antara kamu dan aku. Kamu dengan mudah meraup angka-angka dalam bentuk kertas tanpa harus mengeluarkan keringat. Sedangkan aku harus berjuang sampai banjir keringat, itu pun yang aku dapat hanyalah angka yang lebih kecil. Entah berapa puluh kali lipat kecilnya dari angka yang kamu dapat.
Namun, inilah kebanggaan yang aku dapatkan, bukan nilai angka tersebut. Tetapi, keringat yang membanjiri badanku yang aku banggakan, nilai-nilai yang aku dapatkan juga bersih, suci, dan harum. Sesekali aku masih bisa memberi kepada saudara-audaraku walaupun jumlahnya tidak seberapa dengan jumlah sumbangan yang engkau berikan. Namun, apakah kamu tahu bahwa sumbanganmu itu tidaklah berarti karena nilai yang kamu dapatkan adalah nilai kotor, nilai yang berlumuran darah manusia.
Bak air, nilai yang aku berikan adalah air yang hanya satu gelas namun jernih dari mata air yang suci, sedangkan nilai yang engkau berikan bagaikan air yang berada di sungai namun air tersebut ternodai dengan aliran darah manusia. Sekarang aku bertanya kepada dirimu, manakah yang lebih bermanfaat air yang aku berikan atau air yang kamu berikan?
Mimpi kita pun berbeda, kamu ingin bermimpi untuk membeli pulau bahkan kamu hendak membeli bumi dan seisinya dengan nominal kotor mu, kamu tidak ingat dan mungkin tidak tahu bahwa apa yang kamu inginkan itu tidak akan bisa terwujud. Bahkan kamu akan kecewa ketika menyadari bahwa tanganmu semakin melemah, rambutmu semakin memutih, suaramu semakin mengecil.
Sekarang aku ingin mengutarakan mimpiku, dengar dan perhatikan, aku akan membeli surga dengan kejujuranku, dan aku tidak akan kecewa karena aku yakin bahwa aku akan mendapatkannya dengan kejujuranku. Ketika tenaga ini semakin melemah, rambut ini semakin memutih, aku semakin senang karena aku hampir mendapatkan surga yang aku pesan.
Kamu pernah mengatakan bahwa aku ini adalah orang yang dekil tidak tahu pergaulan, miskin, dan tidak berpengetahuan. Kamu pernah bertanya kepadaku, bahagiakah kamu hidup seperti ini? Akan aku jawab pertanyaanmu dengan pertanyaan, apakah kamu bangga berpakaian bagus namun dikotori dengan darah? Apakah kamu tetap makan lahap sedangkan makanan yang kamu makan adalah bangkai-bangkai manusia?
Aku bangga hidup sebagai orang yang dekil menurut kamu, aku bangga hidup sebagai seorang yang miskin menurut kamu, dan aku bangga menjadi orang yang tidak berpengetahuan menurut kamu. Jelas aku tidak tahu jika kamu tanya kepadaku, manakah alkohol berkualitas yang mempunyai rasa enak, atau manakah pakaian yang cocok untuk digunakan dalam pesta, sedangkan pakaian tersebut adalah pakaian yang melihatkan bagian tubuh yang seharusnya tertutup. Jika anak perempuan maupun istri kamu memakainya, itukah yang kamu banggakan?
Kamu bangga dengan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas kamu banggakan. Kamu bangga dapat menyayat-nyayat tubuh orang lain lalu mengambil pakainnya, meminum darahnya, dan memakan dagingnya. Kamu bisa tertawa ketika orang lain menangis. Itu kan yang kamu sebut dengan kebahagiaan? Itu kan yang kamu sebut dengan hidup nyaman?
Itulah sebenarnya yang menjadikan hatiku semakin tercabik-cabik dengan kehadiranmu, bukan tercabik-cabik karena aku tidak bisa sepertimu. Namun, hati ini tercabik karena ulahmu yang telah melukai fakir miskin, aku tidak bisa menikmati keindahan malam purnama karena mataku tertutup, tertutup karena aku tidak bisa seperti mu? Bukan. Mataku tertutup dengan darah-darah manusia yang kamu peras.
Aku tidak tahu dimanakah aku berpijak, bahkan tahun berapa. Jangankan tanggal dan hari pun aku tak tahu. Bukan karena aku hilang ingatan ataupun aku sengsara hidup sebagai orang miskin, namun aku bingung sekarang aku hidup di zaman jahiliyah atau zaman modern? Bukankah risalah nabi telah sampai tapi kenapa masih ada orang yang mewarisi kejahiliyaan Abu jahal sehingga aku pun dibingungkan dengan masalah itu: hidup di zaman jahiliyah yang modern ataukah hidup di zaman modern yang jahiliyah.
Menurut kamu kehangatan adalah suatu kenikmatan. Berbeda denganku, kehangatan adalah suatu penyakit sehingga aku menginginkan sesuatu yang dingin, kenapa? Kehangatan yang kamu dapat adalah kehangatan dengan cara merebut selimut orang lain, bahkan kamu tidak segan-segan membunuh demi mendapatkan selimut maupun pakaian mereka.
Aku tidak ingin sama sepertimu karena aku dan kamu sekarang berada di bumi yang sama sehingga aku memilih sesuatu yang dingin dari pada aku mendapatkan selimut kehangatan dari hasil merampas dan membunuh. Sesuatu yang tolol, bukan? Itu menurut kamu karena pikiran kamu sudah ternodai, kebiasan kamu memakan bangkai telah membuat otak mu terletak di dengkul.
Silahkan kamu telusuri jalanmu itu. Namun, suatu saat aku akan menghentikan jalanmu karena jalan yang kamu tempuh adalah jalan sesat dan menyesatkan. Saat ini kita masih bisa berkumpul namun lihatlah beberapa tahun yang akan datang jalurmu akan aku rubah demi membahagiakan rakyat, janjiku tidak akan terabaikkan. Ingat-ingatlah kalau kamu tidak merubah jalanmu suatu saat tangan ini yang akan mengubahmu.
Tidak usah kamu berbangga diri dengan harta yang kamu miliki karena suatu saat harta tersebut tidak akan kamu bawa setelah kamu mati, kacuali harta itu halal dan kamu menafkahkannya kejalan yang halal. Janganlah kamu menghina fakir miskin karena bisa jadi derajat mereka lebih tinggi di sisi-Nya. Rasio tidak selamanya bisa dipakai karena di samping itu ada sesuatu yang tidak bisa diterima dengan rasio ataupun nurani, namun harus dilaksanakan, yaitu syariat yang datang dari Tuhan.
Hidup hanyalah sebagai jembatan menuju akhirat nanti. Renungkan sejenak, berapakah usia kamu sekarang? Kapan kamu pertama kali masuk sekolah taman kanak-kanak, lalu kejenjang sekolah dasar, dan tidak terasa akhirnya kamu tamat dari perkuliahan. Pasti terasa seperti baru kemarin, begitulah kehidupan. Tanpa dirasa tiba-tiba ajal sudah di depan mata.
Berbuat baik sebelum terlambat itulah kunci terakhir. Berbuat baik tidaklah perlu di tunda-tunda karena ajal selalu mengintai sewaktu saat bagaikan telur di atas tanduk. Jadi, masa depan adalah apa yang kita kerjakan pada saat ini. Singkatnya kehidupan di akhirat nanti ada kaitannya dengan kehidupan yang kita kerjakan saat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
