Teruntuk Ukhti Diana (1)

26 Sep 2010

Ada segores pedih saat kuukir namamu. Ribuan belati seolah menusuk hati meninggalkan gumpalan sedih di lubang rasa. Penyesalan yang tak berujung, membuatku mengutuki sendiri diri ini. Ya Allah, ampuni aku. Dan untuk Adik, maafkanlah kakak.

Aku ingat, pertama kali mengenalmu ketika kita masih berpakaian putih abu-abu. Aku masih teringat sinar matamu saat aku memasuki kelasmu. Waktu itu, kamu mengajak kami mengisi kosong waktu, sebuah majlis ilmu, kajian Jum’at di rohis. Begitulah rutinitas ini menjadi bagian dunia kita.

Dan waktu berlalu, dirimu terasa sangat berbeda. Kamu begitu dekat dengan kami, senior-seniormu, berbeda dengan teman-temanmu yang biasanya penuh segan. Tapi aku suka sifatmu, Dik. Aku seolah memiliki adik baru. Perhatianmu, terutama kepadaku. Di sela jam istirahat, kamu biasanya menawarkan coklat tak lupa sambil berbisik, “Kak, jangan bilang sama kak Uphi, aku cuma kasih kakak. He he he...” bilangmu seolah itu rahasia.

Aku tertawa menyambut coklat dengan wajah polos seolah tak tahu bagaimana kamu juga melakukan hal yang sama kepada Uphi. Ha ha ha... Mengenang caramu membuat kami semua merasa begitu kamu cintai. Ya Allah, begitu banyaknya dia mengajari kami.

Hari itu kamu mendatangiku, dengan wajah penuh semangat lebih dari biasanya. Kamu bertanya kepadaku, “Kak, aku mau kayak kakak. Menutup aurat dengan sempurna.” Allahu Akbar ! Aku menyambut dengan begitu bahagia. Aku sampaikan pada Uphi, Hilda dan Ade, serta akhwat lainnya. Mereka merespon begitu bahagia. Kau memintaku menemanimu membeli kain, tentu saja aku mau. Subhanallah, bahagianya hatiku saat itu. Serasa tiada hari terindah melebihi ketika aku pergi bersamamu pada hari itu.

****
Beberapa hari kemudian kamu datang dengan wajah cemas. Keluargamu tidak senang dengan perubahanmu, bahkan mereka sempat menyembunyikan jilbabmu. Kamu mulai ragu dengan pilihanmu. Aku mencoba meyakinkanmu bahwa Allah-lah sebaik-baik penolong. Tak kan ada yang bisa menyakitimu dalam lindungan-Nya. Kamu menangis. Aku sedikit bingung. Lalu kita pergi ke mushola Kita shalat dhuha, dan selesai shalat kamu berkata mantap, “Aku mantap untuk memakainya kak”.

Keesokan harinya, kamu dengan jilbab lebarmu, dengan wajah yang sangat berbahagia. Aku memeluk dan menciummu dengan penuh sayang. Aku mencubit pipi tembemmu yang bersemu merah, semua akhwat memelukmu dengan bahagia. ahlan wa sahlan yaa ukhti, semoga kamu terjaga dalam busana syar’i ini.

Kamu pun semakin dekat padaku, sangat perhatian pada kami semua, tak pernah seingatku kamu tak datang menjengukku setiap kali aku sakit. Kamu selalu datang walau dalam kondisi sangat lelah. Dik, kakak sangat bangga padamu. Kamu semakin aktif, semua amanah yang diberikan mampu kamu kerjakan dengan penuh semangat. Bahkan, rasanya tanpa kamu, kami sangat kerepotan. Kami sangat sayang padamu, dik.

****
Tak terasa dua tahun kebersamaan kita. Aku lulus dan harus meninggalkan sekolah kami tercinta, meninggalkan rohis yang kami rintis dari awal dengan penuh perjuangan. Aku meninggalkan teman-temanku, termasuk kamu, Dik. Kamu menangis, kamu meminta kami agar tak meninggalkan kalian. Yah, kami berjanji akan sering mengunjungi. Tak akan berhenti memperhatikan kalian.

Tapi, ternyata semua hanya janji, kami masuk dalam lingkungan kuliah yang kesibukannya menumpuk, terlebih aku mengambil fakultas paling sibuk di antara semua fakultas yang ada. Aku tak menepati janji, aku ingkar padamu, dik. Ya Allah, ampuni aku. Aku melupakanmu, aku mulai sibuk di lembaga dakwah kampusku, yang juga meminta perhatian yang sangat besar. Kuliah-kuliahku, lab-labku yang membuatku tak punya waktu untuk yang lain, termasuk padamu. Aku mulai melupakanmu, tapi kamu sering sekali menghubungiku, menelponku.

Ya, telepon-teleponmu, Dik. Mengingat ini, sungguh penyesalanku seakan tak ada habisnya. Kamu begitu sering meneleponku, menceritakan keadaan di SMU yang telah mengenalkan kita, tentang keluargamu yang semakin menentangmu, saudaramu yang sangat membencimu, tentang tiadanya orang yang mau mendengarkan keluh kesahmu.

Dan aku yang begitu egois, akhirnya mulai bosan dengan semua keluhanmu. Aku yang begitu lelah dengan rutinitas, yang hanya mencuri waktu untuk istirahat, aklhirnya harus merasa terganggu dengan teleponmu. Aku mulai menghindarimu, mencoba tak ku jawab telepon-teleponmu, dan aku tahu kamu tak sekalipun marah. Ya Allah, ampuni hambamu yang khilaf ini.

Bersambung...

0 comments:

Posting Komentar