Uthbah bin Ghazwan: Teladan Kesederhanaan

14 Okt 2010

Oleh: Golden Ahmad

Setahu saya, sedikit sekali buku-buku sejarah yang dipakai di sekolah Tsanawiyah hingga Aliyah yang memberikan gambaran riwayat hidup Utbah Bin Ghazwan. Utbah Bin Ghazwan adalah sosok yang kurang popular di telinga kita; bukan karena beliau tidak memiliki keistimewaan dalam sejarah hidupnya, namun karena para sejarahwan sendiri yang jarang menghadirkan riwayat tentang sosok dan keteladananya ke permukaan.

Berikut merupakan sekelumit kisah tentang spirit dari seorang pahlawan yang sederhana. Semoga bias menjadi cermin kepada kita semua terutama bagi para pemimpin agar menumbuhkan gaya hidup sederhana dan meninggalkan mental hedonis dan addicted ( serba kecanduan ) terhadap materi.

Utbah Bin Ghazwan adalah salah satu sahabat Rosulullah SAW yang secara langsung berba’iat langsung dihadapan Nabi. Pemuda yang berasal dari Mekkah ini dikenal sebagai seorang ahli peperangan terutama kepiawaianya menggunakan pedang. Disamping itu, ia juga terkenal sebagai seorang yang handal dan cakap menggunakan tombak dan panah. Kecanggihanya dalam memainkan 3 senjata ini disalurkan dengan ikut berperang bersama Roulullah memerangi musuh-musuh Islam dan menghancurkan berhala-berhala.

Ketika terdengar berita wafatnya Rosulullah, Utbah masih menggelorakan semangat dirinya untuk tidak patah semangat berperang terhadap kafir Quraisy tanpa Rosulullah. Beliau bahkan berkelana ke berbagai daerah perbatasan wilayah Islam yang waktu itu dikuasai oleh Persia. Dalam satu riwayat, beliau pernah diutus oleh Umar Ibn Khottob guna membebaskan Basrah yang dikuasai persia. Umar berkata kepadanya “berjalanlah bersama anak buahmu hingga sampai batas terjauh dari negeri Arab dan batas terdekat dari negeri Persia! Pergilah dengan restu Allah dan berkah-Nya ! serukan ke jalan Allah siapa yang bersedia ! dan siapa yang menolak hendaklah ia membayar pajak ! bagi setiap penantang maka pedang bagianya. Tabahlah menghadapi musuh serta bertakwalah kepada Allah “.

Utbah seketika bergerak melangkah memenuhi titah pemimpinya berjalan menyusuri negeri hingga sampai ke sebuah daerah bernama Ubullah. Disana mereka dihadang oleh pasukan Persia yang jumlahnya berlipat dari pasukan muslim. Tapi, karena memiliki strategi yang lebih matang dan semangat juang yang tinggi, maka, akhir dari peperangan ini dimenangkan oleh pasukan Islam dibawah kepemimpinan Utbah. Setelah kemenangan itu, kendali wilayah Basrah pun berada ditangan beliau dan dimulailah pembangunan peradaban Islam disana; kantor-kantor pemerintahan, masjid, pasar, taman-taman kota, dan berbagai fasilitas umum lain.

Jauh setelah penaklukan bangsa Persia, kehidupan di Basrah sudah mulai membaik, tenteram dan damai. Melihat hal tersebut sudah barang tentu membuat Utbah bahagia. Namun, di sisi lain, secara pribadi ia merasa gelisah karena dirinya terlalu fokus pada urusan dunia ketimbang akhiratnya. Beliau menyadari betapa nikmatnya jauh dari hingar bingar urusan pemerintahan. ingin sekali ia menyibukkan semua urusan di sisa hidupnya ini untuk urusan-urusan akhirat. Keinginan besar itu sayangnya belum bisa terwujud, lantaran Amirul Mukminin waktu itu, Umar bin Khottob keberatan dan menyuruhnya tetap duduk di kursi pemerintahan.

Bukanlah seorang Utbah bila ia kalah dengan keadaan. Di sela-sela kesibukanya sebagai kepala Negara beliau sempatkan waktunya untuk mengajarkan kepada rakyatnya tentang masalah agama. Beliau juga acapkali mengisi ceramah di berbagai tempat. Dalam ceramahnya, beliau selalu menasehati kepada rakyatnya akan pentingnya sebuah kesederhanaan dan bahaya hidup bermegah-megahan. Salah satu kutipan pidatonya sebagai berikut “ demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku bersama Rosulullah. Di suatu hari aku beroleh rizki sehelai baju burdah. Lalu kubelah dua. Yang sebelah kuberikan kepada sa’ad Bin Malk dan sebelah lagi kupakai untuk diriku !”. subhanallah… apa yang disampaikan beliau adalah benar adanya dan beliau juga mempraktikkan itu dalam kehidupanya. Himbaun Utbah kepada rakyatnya untuk hidup sederhana ternyata tidak dipedulikan rakyatnya sehingga beliau berazam menunaikan haji ke mekkah guna menyempurnakan rukun Islam serta berdoá kepada Allah untuk memberikan hidayah kepada rakyatnya supaya memilih jalan hidup sederhana ketimbang bermegah-megahan.

Kepergian Utbah ke tanah suci mekkah tentu akan membuat kursi pemerintahan Basrah kosong. Maka dari itu Utbah telah menunjuk salah seorang sahabatnya untuk menggantikan posisinya sebagai kepala Negara sementara waktu. Seusai menunaikan ibadah haji Utbah melangkahkan kakinya ke Madinah menghadap kepada Khalifah Umar dan memohon kepadanya agar diperkenankan untuk mengundurkan diri sebagai kepala Negara. Lagi-lagi keinginan tersebut tidak mendapat dari sang khalifah karena Umar memang tidak mau menyi-nyiakan seorang zuhud seperti Utbah. Umar masih menginginkan Utbah memimpin Basrah.

Utbah kemudian kembali ke kota Basrah sesuai dengan seruan Umar. Sebelum naik ke kuda, beliau berdoá kepada Allah agar ia tidak dikembalikan lagi ke Basrah dan tidak pula memimpin pemerintahan untuk selama-lamanya. Tidak diduga, doá Utbah terkabul selagi Utbah dalam perjalanan menuju kota Basrah, malaikat maut mengambil ruh beliau. Dalam riwayat lain di jelaskan bahwa beliau meninggal tatkala ia sedang menunggangi unta lalu beliau jatuh dan meninggal seketika. Wallahu a’lam bis Showab. ()

1 comments:

sohabat mengatakan...

Mengenal lebih dekat sosok --> Utbah bin Ghazwan

Posting Komentar